Sesar Aktif di Tengah Kota, BRIN Identifikasi 3 Lokasi di Jawa
Jakarta, PANGKEP NEWS – Para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengidentifikasi sesar aktif yang melintasi wilayah Semarang dan sekitarnya, termasuk di dalamnya Demak dan Kendal.
Penemuan ini dihasilkan dari ekspedisi geologi darat yang dilakukan oleh Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN pada Mei 2025. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mendokumentasikan struktur sesar naik yang menunjukkan adanya aktivitas seismik di masa lampau.
“Sesar yang ditemukan di Semarang ini sudah dipastikan ada dan aktif, ditunjukkan oleh adanya batuan atau endapan yang menjadi indikatornya,” ungkap Sonny Aribowo, peneliti di Bidang Paleoseismologi BRIN, dalam pernyataan resmi BRIN, Senin (11/8/2025).
BRIN telah memetakan tiga zona utama, yaitu:
- Zona Timur (Demak): Terdapat gawir sesar setinggi 1 meter di atas endapan aluvial muda, yang diduga terbentuk akibat satu kejadian gempa. Lokasi ini dinilai cocok untuk survei geolistrik dan pemetaan LiDAR.
- Zona Kota (Semarang): Struktur sesar serupa ditemukan di area Taman Makam Pahlawan, dengan gawir mencapai 4 meter. Penelitian lebih lanjut diperlukan mengingat banyaknya modifikasi di daerah tersebut.
- Zona Barat (Kendal): Menjadi titik paling menjanjikan, dengan gawir setinggi 0,5-3 meter dan singkapan sesar aktif. Beberapa bagian bahkan terangkat hingga 20 meter di atas sungai, menandakan adanya aktivitas tektonik Holosen.
Gawir sesar adalah tebing curam yang terbentuk akibat sesar baru dan biasanya disertai pergeseran vertikal.
Lokasi patahan di Semarang memiliki panjang yang signifikan, dan masih dalam penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah berasal dari satu segmen sesar yang sama atau terdiri dari beberapa segmen berbeda.
Jika terbukti berasal dari satu segmen sesar utuh, potensi magnitudo gempa bisa lebih besar. Bahkan, bagian terpanjangnya berada di utara Semarang dan lebih panjang dari Sesar Lembang di Jawa Barat.
“Kalau dilihat dari permukaan, sesarnya tampak terputus-putus, jadi mungkin berbeda segmen. Namun, pada ekspedisi bulan Agustus/September akan dilakukan trenching di lokasi tersebut untuk melihat berapa periode ulang gempa yang terjadi,” jelas Sonny.
Ekspedisi lanjutan pada Agustus 2025 akan mencakup pengambilan 10 sampel ilmiah, pemetaan tujuh lokasi, dan penyusunan draf publikasi ilmiah.
BRIN berharap hasil riset ini dapat menjadi dasar mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta edukasi publik mengenai risiko gempa bumi di Semarang dan sekitarnya.