Jakarta – Pembangunan Pusat Belanja Terus Berjalan Meski Hadapi Fenomena Rojali-Rohana
Di tengah maraknya fenomena Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya) yang melanda mal-mal di Indonesia, industri pusat belanja tetap optimis melanjutkan pembangunan.
Alphonzus Widjaja, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), menegaskan bahwa pusat perbelanjaan baru terus bermunculan di berbagai wilayah, termasuk di luar Pulau Jawa.
“Pusat perbelanjaan baru tetap dibangun, baik di Jabodetabek maupun di daerah lainnya termasuk di luar Pulau Jawa, seperti Jakarta Premium Outlet, Pakuwon Mall Bekasi, Icon Bali, dan lainnya,” kata Alphonzus kepada PANGKEP NEWS, dikutip Senin (4/8/2025).
Menurut Alphonzus, potensi bisnis pusat perbelanjaan masih sangat luas. Ia mengungkapkan bahwa mal kini bukan hanya tempat belanja, melainkan sudah menjadi bagian dari fasilitas publik yang memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat.
“Pusat perbelanjaan kini menjadi salah satu fasilitas publik yang diperlukan masyarakat, melayani kebutuhan selain produk pokok, seperti hiburan, pendidikan, kesehatan, dan lainnya,” jelasnya.
Alphonzus juga menyebutkan bahwa rasio luas pusat perbelanjaan dibandingkan dengan populasi di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara-negara tetangga.
Terpisah, Arief Rahardjo, Direktur Strategic Consulting Cushman & Wakefield Indonesia, mengatakan bahwa fenomena Rojali dan Rohana mencerminkan perubahan pola belanja konsumen yang kini lebih selektif dan berorientasi pengalaman.
“Namun, ini belum sepenuhnya mengurangi daya tarik mal, terutama di sektor F&B (makanan dan minuman) yang tetap tumbuh karena kebutuhan sosial dan konsumtif masyarakat untuk makan di luar masih tinggi,” ujar Arief kepada PANGKEP NEWS Indonesia.
“Mal kini juga mulai beradaptasi dengan menambahkan ruang terbuka, area komunitas, dan tenant mix yang lebih beragam dan fleksibel, menjadikannya destinasi rekreasi dan sosialisasi. Dengan strategi ini, penambahan pasokan mal tetap memiliki tempat di pasar, terutama jika mampu menangkap perubahan perilaku konsumen dengan konsep yang tepat,” lanjutnya.
Cushman & Wakefield Indonesia mencatat bahwa wilayah Debotabek (Depok, Tangerang, Bekasi) menambahkan tiga pusat ritel baru, meningkatkan pasokan ruang ritel sebesar 96.900 m2 dengan dua pengembangan pusat perbelanjaan baru hingga akhir 2025. Pada triwulan II tahun 2025, ruang ritel yang terisi di Jakarta meningkat menjadi 3.746.100 m², dengan peningkatan tahunan sebesar 0,5% dan tingkat hunian mencapai 77,9%, naik 1,0% secara triwulanan.
Rojali-Rohana Bukan Fenomena Baru
Menurut Alphonzus, fenomena pengunjung yang datang ke mal namun tidak membeli bukanlah hal baru dan sangat dipengaruhi kondisi daya beli masyarakat.
“Pengunjung datang ke pusat perbelanjaan tapi sedikit atau tidak belanja bukanlah tren baru,” ungkap Alphonzus.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat kelas menengah bawah cenderung lebih selektif dalam pengeluaran, terutama saat daya beli belum pulih sepenuhnya, dengan prioritas pada barang kebutuhan pokok.
“Dengan minimnya uang di masyarakat kelas menengah bawah, ada kecenderungan untuk berbelanja barang dengan harga rendah. Masyarakat juga dipaksa untuk mengurangi dan memprioritaskan belanja barang yang penting dan utama,” jelasnya.
Namun, Alphonzus optimistis kondisi ini tidak akan bertahan lama. “Kondisi ini tidak akan permanen. Situasi akan kembali normal saat daya beli masyarakat pulih kembali,” ujarnya.
Alphonzus juga menjelaskan bahwa situasi ini relatif tidak berlaku untuk kelas menengah atas yang daya belinya lebih stabil.
“Kalaupun ada fenomena Rojali di kelas atas, itu bukan karena daya beli yang lemah, tapi kelas menengah atas lebih memilih menyimpan uang atau berinvestasi daripada belanja, akibat kondisi ekonomi mikro dan makro serta dampak global yang menimbulkan ketidakpastian,” jelasnya.