Indikasi Akhir Zaman Semakin Nyata, Korban Berjatuhan di Depan Mata
Jakarta, PANGKEP NEWS – Cuaca ekstrem semakin menjadi-jadi. Banjir bandang melanda berbagai bagian dunia dari Amerika, Eropa, hingga Asia.
Para pakar iklim menyatakan bahwa curah hujan yang ekstrem dan banjir kemungkinan besar dipicu oleh perubahan iklim yang diakibatkan oleh aktivitas manusia.
Daniel Swain, ilmuwan iklim dari University of California, menjelaskan bahwa pemanasan global telah mengubah pola cuaca ekstrem dengan signifikan.
“Ada banyak bukti bahwa jenis cuaca ekstrem ini secara khusus telah meningkat secara signifikan di seluruh dunia akibat pemanasan global yang terjadi,” ujar Swain, seperti dikutip dari ABC News, Senin (15/7/2025).
Fenomena ini membuat banjir lebih sering dan lebih parah. Walaupun prakiraan cuaca cukup tepat, Swain menekankan sulitnya memprediksi lokasi banjir terparah jauh sebelum terjadi.
Kondisi ini diperburuk oleh perubahan suhu laut. Misalnya, Teluk Meksiko yang berbatasan dengan Texas kini jauh lebih hangat, menghasilkan penguapan kelembapan tropis yang tinggi.
“Bergantung pada lokasi, udara lembab tersebut akan terangkat saat melewati topografi,” jelas Swain. “Kemudian, ia akan mendingin dan mengembun menjadi awan, terutama jika atmosfer mendukung terbentuknya badai petir.”
Jennifer Marlon, peneliti senior di Yale School of the Environment, mengatakan bahwa banjir bandang selalu ada, tetapi pemanasan global akibat penggunaan bahan bakar fosil membuatnya jauh lebih buruk.
Para ilmuwan, jelasnya, telah mengetahui selama lebih dari 100 tahun bahwa pembakaran bahan bakar fosil akan memanaskan planet ini.
Menggunakan mobil berbahan bakar bensin dan pembangkit listrik dari metana menghasilkan karbon dioksida dalam jumlah besar yang menjebak panas.
“Panas ini kemudian memicu cuaca yang lebih ganas karena udara yang lebih hangat menyimpan lebih banyak uap air,” jelasnya.
Banjir besar tidak hanya melanda Texas, tetapi juga berbagai negara lain. Di India, banjir bandang menewaskan puluhan orang. Di Eropa, curah hujan ekstrem menyebabkan sungai meluap dan memaksa evakuasi massal.
Andrew Dessler, ahli cuaca ekstrem dari Texas A&M University, mengatakan kondisi ini akan bertambah buruk jika tidak segera dilakukan transisi energi.
Dessler menunjukkan bahwa untuk mengurangi dampak perubahan iklim, AS perlu meningkatkan sistem peringatan dini, membangun infrastruktur yang lebih baik dalam mengelola banjir, serta beralih ke tenaga surya dan angin.
Menurtnya, tenaga surya dan angin tidak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga lebih ekonomis dibandingkan bahan bakar fosil.
Para ilmuwan kini menyerukan agar para pemimpin dunia lebih serius dalam mengambil kebijakan iklim yang berkelanjutan dan mendukung energi bersih.