Pembantu Terdekat Presiden AS Meradang Usai Dikerjai Presiden RI
Jakarta, PANGKEP NEWS Indonesia – Dalam kurun waktu panjang hubungan diplomatik, pembantu terdekat Presiden Amerika Serikat (AS) pernah dijahili oleh Presiden Indonesia.
Individu tersebut adalah Marshall Green yang diangkat oleh Presiden Lyndon Johnson (1963-1969) sebagai Duta Besar AS untuk Indonesia sejak 26 Juli 1965. Selama bertugas di Indonesia, Green mengalami kejadian memalukan di muka umum oleh Presiden Soekarno.
Presiden Soekarno memang tidak menyukai kehadiran Green sebagai perwakilan diplomatik Washington di Jakarta. Hal ini karena Green memiliki reputasi yang kontroversial. Di negara-negara tempat ia pernah bertugas, seringkali terjadi kudeta tidak lama kemudian.
“Marshall Green yang turut berperan dalam penggulingan PM Mossadegh dari Iran yang menasionalisasi perusahaan minyak Abadan pada tahun 1956. Dia juga terlibat dalam penggulingan Presiden Syngman Rhee di Korea Selatan pada tahun 1960,” tulis Duta Besar RI untuk Uni Soviet, Manai Sophiaan, dalam Kehormatan Bagi yang Berhak: Bung Karno Tidak Terlibat G30S/PKI (1994).
Pada saat yang sama, ketidakpuasan Soekarno terhadap AS juga sedang tinggi. Dalam autobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965), proklamator tersebut mengisahkan bagaimana Indonesia merasa dipermainkan oleh AS melalui bantuan-bantuan yang banyak syaratnya.
“Bertahun-tahun aku ingin bersahabat dengan Amerika, namun mereka tak menerima diriku. Amerika kerap salah mengartikan bantuan asing sebagai persahabatan,” ujar Soekarno.
Karena alasan ini, ketika Green menjalankan tugasnya di Indonesia, ketidaksukaan Soekarno langsung terlihat. Saat prosesi penyerahan surat kepercayaan di Istana Negara, presiden secara terang-terangan mengkritik kebijakan politik luar negeri AS di depan Green dan para duta besar lainnya.
Menurut kesaksian anggota Tjakrabirawa (kini Paspampres), Maulwi Saelan, Green tampak kesal dan hampir meninggalkan ruangan, tetapi akhirnya bertahan hingga acara selesai.
“Marshal Green berpura-pura tidak mendengarkan kritik Bung Karno,” ujar Maulwi dalam memoarnya Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66 (2001).
Namun, kejadian paling menegangkan terjadi pada 28 September 1965. Saat itu, Green diundang Soekarno untuk menghadiri peletakan batu pertama Universitas Indonesia di Ciputat.
Dia hadir bersama Duta Besar Meksiko dan duduk di panggung kehormatan. Di tengah acara, pria kelahiran 6 Juni 1901 itu tiba-tiba membawa durian ke panggung dan menyodorkannya langsung ke Green.
Sang diplomat, seperti kebanyakan orang AS, tidak suka durian karena aroma dan rasanya yang menjijikkan. Green merasa Soekarno mengetahui ketidaksukaannya ini dan sengaja ingin mempermalukan dirinya.
Lebih buruk lagi, Soekarno meminta paduan suara mendesaknya untuk segera memakan durian tersebut.
“Soekarno memimpin mahasiswa berteriak ‘makan, makan, makan!’,” kenang Green dalam memoarnya Dari Sukarno ke Soeharto: G30S-PKI dari Kacamata Seorang Duta Besar (1992).
Akibat tekanan suasana dan demi menjaga kehormatan negara adidaya, Green akhirnya memakan durian itu dalam kondisi tertekan.
Tidak hanya soal durian, Green juga pernah merasa ketakutan karena undangan Soekarno ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Wilayah ini dikenal dengan legenda Nyi Roro Kidul, ratu penguasa laut selatan.
Pelukis Nyi Roro Kidul, Basoeki Abdullah, dalam Basoeki Abdullah: Sang Hanoman Keloyongan (2023), mengisahkan, pada tahun 1965 ada pejabat tinggi dari kedutaan Bulgaria yang meninggal terseret ombak di Pantai Pelabuhan Ratu.
“Ternyata, pejabat itu mengenakan pakaian dalam yang semuanya berwarna hijau,” kenang pelukis tersebut.
Green yang awalnya tidak percaya dengan mitos semacam itu, mendadak panik. Dia mulai berpikir, tanpa perlu berpakaian hijau, dirinya mungkin sudah cukup mengundang bahaya.
Karena, namanya adalah Green yang dalam bahasa Indonesia berarti hijau. Disebut-sebut, hijau adalah warna kesukaan Nyi Roro Kidul. Maka, dia selalu enggan berlibur ke Pantai Selatan Jawa, khususnya Sukabumi, meskipun diundang langsung oleh orang nomor satu di Indonesia.
Marshall Green sendiri tercatat bertugas menjadi Duta Besar di Jakarta hingga 1969. Dia menjadi saksi langsung kejatuhan Soekarno dan kenaikan Soeharto sebagai Presiden ke-2 RI. Posisi ini menambah panjang daftar reputasinya di mana di setiap negara tempat dia bertugas, tidak lama kemudian selalu terjadi kudeta.