Jakarta, PANGKEP NEWS
TikTok baru-baru ini menunjuk Erica Mindel, seorang mantan instruktur militer Israel, untuk posisi Manajer Kebijakan Publik yang menangani ujaran kebencian. Keputusan ini menimbulkan kontroversi di tengah perhatian terhadap bagaimana TikTok menangani konten antisemit dan ekstremisme.
Menurut laporan dari Economic Times, Mindel telah menjalani peran ini secara penuh sejak Juli di kantor pusat TikTok di New York. Berdasarkan profil LinkedIn dan deskripsi pekerjaannya, Mindel bertanggung jawab untuk menyusun kebijakan terkait ujaran kebencian, mengarahkan strategi, dan menjadi ahli internal serta eksternal TikTok dalam menghadapi isu antisemitisme.
Penunjukan ini muncul saat TikTok berada di bawah tekanan dari anggota parlemen AS, kelompok advokasi, dan organisasi Yahudi yang menuduh platform ini membiarkan konten antisemit berkembang, terutama setelah insiden di Gaza pada 7 Oktober 2023.
Sebelum bergabung dengan TikTok, Mindel bekerja sebagai kontraktor untuk Departemen Luar Negeri AS di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden. Ia memberikan masukan kepada Duta Besar Deborah Lipstadt, yang menjabat sebagai Utusan Khusus AS untuk Memantau dan Memerangi Antisemitisme, dan juga pernah bekerja sebagai Asisten Direktur di American Jewish Committee (AJC).
Mindel memiliki latar belakang akademik di bidang Ilmu Politik dari University of Michigan dan Kebijakan Publik dari Johns Hopkins University. Dalam wawancara dengan AJC pada 2023, ia berbagi pengalamannya selama lebih dari dua tahun di Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sebagai instruktur di Korps Lapis Baja.
Reaksi terhadap penunjukan ini beragam. Kelompok pendukung seperti Anti-Defamation League (ADL) dan beberapa organisasi advokasi Yahudi melihat langkah ini sebagai cara untuk meningkatkan perlindungan komunitas Yahudi dari ujaran kebencian. Namun, ada kekhawatiran dari pihak yang menganggap kebijakan moderasi TikTok mungkin akan bias terhadap konten pro-Palestina.
TikTok telah lama dikritik karena kebijakan moderasi konten yang dianggap tidak konsisten serta algoritme yang tidak transparan, yang menurut para kritikus telah memperkuat narasi ekstremis, rasis, dan antisemit. Platform yang dimiliki oleh ByteDance dari China ini juga menghadapi tekanan regulasi yang ketat di AS dan Eropa terkait penyebaran konten berbahaya.
Dengan antisemitisme yang dikabarkan mencapai rekor tertinggi secara global, Mindel diharapkan dapat menyeimbangkan antara melindungi komunitas rentan dan menjaga kebebasan berekspresi di platform yang kini menjadi salah satu ruang diskusi politik paling aktif di ranah digital.