Truk Logistik Pilih Jalur Alternatif, Tol Cibitung-Cilincing Dinilai Terlalu Mahal
Jakarta, PANGKEP NEWS – Para pelaku usaha logistik menilai bahwa biaya menggunakan Tol Cibitung-Cilincing masih terbilang tinggi. Akibatnya, banyak pengangkut barang cenderung menghindari tol tersebut dan memilih jalur alternatif yang lebih ekonomis.
Tol Cibitung-Cilincing sebenarnya menawarkan akses strategis bagi industri logistik, karena langsung menghubungkan Cibitung dengan jalur menuju Pelabuhan Tanjung Priok, yang dapat mengurangi kemacetan.
Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Mahendra Rianto, menyatakan bahwa tingginya tarif tol memaksa pelaku usaha logistik untuk mencari rute lain guna tetap menjalankan bisnis tanpa memberatkan biaya pelanggan.
Menurut Mahendra, salah satu jalan yang kerap dilalui untuk menghindari tarif tinggi adalah melalui jalur arteri. Rute ini mencakup keluar dari Bekasi Barat, masuk ke Pondok Ungu, keluar di Cakung Barat, atau melalui Cawang dan Jalan D.I Pandjaitan menuju Pelabuhan Tanjung Priok.
Mahendra menjelaskan bahwa kenaikan tarif tol tidak bisa langsung dibebankan kepada pengguna jasa, berbeda dengan harga BBM yang bisa diubah secara periodik.
“Tarif tol naik, kita nggak bisa langsung sesuaikan harganya. Jadi kalau mau tetap bertahan, ya kita harus mencari cara lain,” jelasnya.
Mahendra menambahkan bahwa meski tol menawarkan kecepatan dan efisiensi, jika perbedaan waktu tempuh hanya 8-10 jam dibanding jalur biasa, terutama untuk truk besar dengan muatan berat, banyak pelaku usaha tidak menganggapnya sebanding dengan biaya tambahan.
Ia menyarankan agar tarif tol dapat ditekan agar lebih banyak kendaraan logistik yang mau menggunakan jalur tersebut.
Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Akbar Djohan, mengungkapkan bahwa pengemudi truk sering diberi kebebasan menentukan rute dengan uang operasional yang diserahkan langsung oleh pemilik usaha, yang mana hal ini mendorong mereka memilih jalur yang hemat biaya.
Menurut Akbar, meskipun pelaku usaha mengutamakan keselamatan, ketepatan waktu, dan efisiensi bahan bakar, dalam praktiknya keputusan rute sering kali ditentukan oleh sopir.