Jakarta, PANGKEP NEWS
Pentingnya memastikan bahwa semua peralatan berfungsi dengan baik dan staf memiliki kompetensi yang memadai dalam pengembangan nuklir tidak bisa diabaikan. Jangan sampai tragedi seperti Ledakan Nuklir Chernobyl yang terjadi 69 tahun yang lalu, tepatnya pada 26 April 1986, terulang kembali. Akibat kelalaian dalam dua aspek ini, sebanyak 60.000 orang kehilangan nyawa dan ratusan ribu orang harus meninggalkan tempat tinggal mereka selama 20.000 tahun.
Chernobyl merupakan situs nuklir yang menjadi simbol ambisi Uni Soviet untuk memiliki reaktor nuklir terbesar di dunia. Sejak 1977, Uni Soviet berhasil membangun reaktor dengan kapasitas 1.000 megawatt, yang mampu memenuhi kebutuhan listrik sebuah negara selama bertahun-tahun.
Pada 1986, terdapat empat reaktor besar di Chernobyl dengan kapasitas yang sama, meskipun beberapa di antaranya masih dalam tahap pengujian. Menurut laporan, pengujian yang dilakukan berkaitan dengan sistem pendingin yang harus bekerja terus-menerus. Reaktor harus selalu dingin, sehingga suplai air harus tersedia 24 jam sehari. Tanpa itu, reaktor bisa menjadi terlalu panas dan meledak.
Dalam kasus Chernobyl, tim nuklir Soviet mencoba menguji aktivasi generator agar turbin terus menyuplai air untuk mendinginkan reaktor. Pengujian ini dilakukan pada 26 April 1986. Air dari turbin diharapkan dapat terus mendinginkan inti reaktor, sementara tim akan mengukur berapa lama turbin dapat beroperasi.
Namun, orang-orang yang terlibat dalam pengujian ini tidak kompeten dan mengabaikan masukan. Hal ini terjadi pada Deputi Kepala Teknisi Anatoly Stepanovich Dyatlov dan Kepala Teknisi Nicholai Fomin. Menurut buku Chernobyl: 01:23:40 (2014), Fomin mengabaikan bahwa tenaga pendingin tidak mencukupi, meskipun ia mengetahui bahwa tenaga reaktor hanya 200 megawatt, jauh di bawah kebutuhan minimum 700 megawatt.
Dyatlov bersikukuh bahwa pengujian harus dilakukan hari itu juga. Di sisi lain, para teknisi sudah angkat tangan karena tidak mampu melaksanakannya. Namun, ancaman mutasi dari Dyatlov membuat mereka akhirnya setuju.
Petaka dimulai saat malam tiba. Teknisi menyalakan generator dan turbin air mulai beroperasi. Namun, daya generator cepat menurun, menyebabkan suhu inti reaktor naik drastis. Saat itu, teknisi dengan panik menekan tombol SCRAM di komputer, yang seharusnya mengaktifkan generator. Sayangnya, tombol tersebut tidak berfungsi karena tidak pernah dicek sebelumnya. Akibatnya, suhu reaktor meningkat hingga 3.000 derajat Celcius dan ledakan besar pun terjadi.
Ketika radiasi menyebar, banyak warga yang masih tertidur dan tidak dapat melarikan diri, terpapar radiasi tinggi. Pada saat itu, alat pendeteksi radiasi tidak dapat mengukur tingkat radiasi karena terlalu tinggi. Saat fajar tiba, penduduk yang terbangun mendapati debu bertebaran, yang ternyata adalah debu radioaktif.
Menurut catatan BBC, sekitar 90 ribu orang meninggal akibat radiasi jangka panjang, sementara 600 ribu orang terpapar radiasi tetapi selamat. WHO mencatat bahwa radiasi mencapai jarak 200 ribu km hingga ke Eropa. Chernobyl sendiri tidak dapat dihuni manusia selama 20.000 tahun akibat radiasi tersebut.