Trump Tambah Tarif 10% untuk Negara BRICS
Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru saja mengumumkan kebijakan penerapan tarif tambahan sebesar 10% terhadap negara-negara BRICS. Langkah ini disebut Trump sebagai respons terhadap apa yang dianggapnya sebagai ‘kebijakan anti-Amerika’ dari negara-negara tersebut.
Menanggapi hal ini, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa pemerintah Indonesia telah siap menghadapi kemungkinan yang muncul. Ia menyebutkan bahwa tim negosiasi Indonesia telah berada di Washington DC, Amerika Serikat (AS) sejak beberapa waktu yang lalu.
‘Siapa yang berbicara itu? Donald Trump. Kita punya tim negosiasi yang sudah siaga di Washington DC sejak lama. Dan saya yakin mereka punya target, target tarif terbaik untuk Indonesia,’ ujar Agus ketika ditemui di kompleks parlemen, Jakarta.
Namun, Agus optimis bahwa pemerintah AS pada akhirnya akan lebih terbuka terhadap kepentingan Indonesia.
‘Jadi kita tunggu saja. Saya yakin bahwa pemerintah Amerika pada waktunya akan lebih fleksibel dan dinamis terhadap kepentingan Indonesia. Karena Indonesia adalah negara yang cukup penting bagi Amerika, baik dalam hal geo ekonomi, ekonomi, perdagangan, dan lainnya,’ katanya.
Agus juga meminta masyarakat untuk mempercayakan kepada tim negosiator Indonesia yang saat ini sedang bekerja di AS.
‘Jadi, kita percayakan saja kepada negosiator kita yang sekarang berada di Amerika,’ tambahnya.
Mengenai kemungkinan Indonesia mengalihkan pasar ekspor dari AS ke negara lain, Agus menegaskan bahwa kinerja ekspor Indonesia saat ini menunjukkan tren positif.
‘Saya hanya bisa mengatakan, berdasarkan data BPS terbaru, ekspor kita justru meningkat. Sangat baik, sangat bagus,’ tegas Agus.
Dia juga menekankan pentingnya peran ekspor dalam perekonomian nasional. ‘Ada empat kunci utama dalam pergerakan ekonomi itu. Pertama adalah konsumsi rumah tangga, kedua investasi, ketiga ekspor, dan keempat belanja pemerintah,’ ujarnya.
‘Ekspor saat ini merupakan yang paling baik dan lebih baik dibandingkan tiga kunci utama lainnya,’ sambung Agus.
Namun, Agus tidak menampik bahwa kenaikan tarif AS dapat berdampak pada ekspor Indonesia. ‘Jadi, jika ada kenaikan tarif yang diberlakukan oleh Amerika terhadap produk kita, pasti ada dampaknya bagi kita,’ katanya.
Meski demikian, ia berharap pemerintah AS juga mempertimbangkan dampak kebijakan ini terhadap konsumen domestik mereka.
‘Namun, perlu diperhitungkan oleh pemerintah Amerika bahwa hal itu juga akan berdampak bagi konsumsi atau konsumen di Amerika sendiri. Semoga itu sudah diperhitungkan oleh pemerintah,’ pungkasnya.