Pertemuan Trump-Putin di Alaska: Apakah Zelensky Akan Hadir?
Jakarta, PANGKEP NEWS – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akan melakukan pertemuan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Alaska yang dijadwalkan minggu depan. Pertemuan ini akan dihadiri oleh sejumlah pemimpin negara Eropa, dengan salah satu topik utama adalah konflik yang berlangsung antara Rusia dan Ukraina.
Sebelumnya, pada 28 Februari 2025, Trump bertemu dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, di Gedung Putih. Namun, pertemuan tersebut belum memberikan hasil yang memuaskan bagi kedua belah pihak. Amerika Serikat berharap adanya perdamaian antara Ukraina dan Rusia, meskipun Ukraina masih merasa terancam oleh kemungkinan pengambilalihan wilayah oleh Rusia.
Berbagai pemimpin Eropa menyatakan dukungan terhadap upaya diplomatik Trump, namun menekankan bahwa pembicaraan damai harus dimulai dengan gencatan senjata, dan Ukraina harus terlibat aktif dalam proses tersebut.
Meski tidak ada informasi bahwa Zelensky akan hadir dalam KTT Alaska pekan depan, Gedung Putih menyatakan bahwa keterlibatan Zelensky belum sepenuhnya dikesampingkan.
Menurut seorang pejabat Gedung Putih, keterlibatan Zelensky kemungkinan akan terjadi setelah pertemuan antara Trump dan Putin. Trump juga terbuka untuk kemungkinan pertemuan trilateral dengan kedua pemimpin tersebut.
Salah satu pejabat Gedung Putih menyebutkan, “Gedung Putih merencanakan pertemuan bilateral atas permintaan Presiden Putin.”
Sejak pengumuman rencana pertemuan dengan Putin, terjadi upaya diplomatik intensif di balik layar untuk melibatkan sekutu-sekutu AS.
Trump tidak menyebutkan apakah atau kapan Zelensky akan terlibat dalam proses ini. Di sisi lain, Zelensky dan pemimpin Eropa menekankan bahwa Ukraina harus menjadi bagian dari setiap diskusi untuk mengakhiri konflik.
Pada hari Minggu, Zelensky mengatakan dia mendukung penuh pernyataan bersama tersebut.
Pernyataan tersebut menekankan bahwa Ukraina harus memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Negosiasi yang berarti hanya dapat dilakukan dalam konteks gencatan senjata atau pengurangan konflik. Jalan menuju perdamaian di Ukraina tidak dapat diputuskan tanpa melibatkan Ukraina.
Pernyataan itu juga menyatakan bahwa setiap perjanjian diplomatik untuk mengakhiri konflik harus mencakup jaminan keamanan yang kuat dan dapat diandalkan, yang memungkinkan Ukraina untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas teritorialnya dengan efektif.