Jakarta, PANGKEP NEWS – Netanyahu Sambut Peluang Baru Usai Konflik
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengungkapkan bahwa berakhirnya konfrontasi bersenjata dengan Iran memberikan peluang segar bagi negaranya, termasuk usaha untuk memulangkan sandera yang masih berada di tangan Hamas di Gaza. Hal ini diutarakannya saat mengunjungi markas intelijen Shin Bet pada hari Minggu, tak lama setelah pengumuman Trump di media sosialnya mengenai kemungkinan gencatan senjata di wilayah Palestina tersebut.
“Seperti yang Anda mungkin tahu, banyak peluang yang terbuka sekarang setelah kemenangan ini. Pertama dan terutama, untuk menyelamatkan para sandera,” ujar Netanyahu dalam pernyataan resminya, seperti dilaporkan oleh Reuters.
“Jelas kita juga harus menyelesaikan masalah Gaza, untuk menundukkan Hamas, tapi saya percaya kita akan mampu mencapai kedua tujuan tersebut,” tambahnya.
Sebelumnya, Israel dan Iran terlibat dalam perang selama 12 hari yang berakhir pada 24 Juni lalu. Kepala Staf Militer Israel, Letjen Eyal Zamir, menyatakan bahwa ini adalah momen strategis untuk menekan Hamas.
Di sisi lain, penundaan sidang kasus korupsi Netanyahu oleh Pengadilan Distrik Yerusalem memicu spekulasi bahwa Israel tengah memusatkan perhatian pada diplomasi untuk pembebasan sandera. Penundaan ini diberikan berdasarkan alasan keamanan dan diplomatik yang tidak diungkapkan.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga menyatakan bahwa sidang tersebut bisa mengganggu usaha negosiasi Netanyahu. Trump menyebutkan pada hari Sabtu bahwa Netanyahu sedang membahas kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas, meskipun belum ada detail resmi dari kedua belah pihak.
Pada hari Jumat, Trump mengatakan bahwa gencatan senjata antara Israel dan Hamas mungkin akan tercapai dalam waktu dekat, bahkan bisa dalam satu minggu ke depan.
“Saya kira kita hampir mencapai kesepakatan,” ungkap Trump, merujuk pada gencatan senjata di Gaza.
Pemerintah AS telah mengusulkan gencatan senjata selama 60 hari dan pembebasan setengah dari sandera dengan imbalan tahanan dan jenazah warga Palestina. Hamas akan membebaskan sisanya jika gencatan senjata permanen diterapkan.
Forum Sandera dan Keluarga Hilang, yang mewakili keluarga dari 50 sandera yang tersisa di Gaza, menyambut baik pernyataan Netanyahu. Mereka menyatakan bahwa pemulangan para sandera akhirnya menjadi prioritas utama bagi perdana menteri.
“Ini harus segera diterjemahkan menjadi satu kesepakatan menyeluruh,” katanya. Saat ini, dari 50 sandera yang masih ditahan, hanya sekitar 20 yang diyakini masih hidup.
Meski demikian, operasi militer Israel terus berlanjut. Kemarin, warga di bagian utara Gaza diperintahkan untuk mengevakuasi wilayah mereka menjelang serangan besar-besaran terhadap posisi Hamas.
Seorang pejabat Hamas menyatakan bahwa kelompoknya siap untuk melanjutkan perundingan, namun tetap menuntut diakhirinya perang dan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza. Israel bersikeras bahwa perang hanya akan berhenti jika Hamas dilucuti dan dibubarkan, syarat ini terus ditolak oleh Hamas.
Israel dan Hamas telah bertempur sejak Oktober 2023. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 56.000 warga Palestina telah meninggal, dan hampir seluruh dari 2,3 juta penduduk Gaza kini mengungsi, dengan krisis kemanusiaan yang semakin memburuk.