Perhatian Gempa Signifikan! Potensi Sesar Aktif di Semarang Terbukti
Jakarta, PANGKEP NEWS – Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Kebencanaan Geologi, telah mengidentifikasi potensi sesar aktif di daerah Semarang dan sekitarnya. Penemuan ini terjadi ketika tim melakukan ekspedisi geologi darat di wilayah Jawa Tengah, tepatnya di Semarang, Demak, dan Kendal, pada bulan Mei 2025.
Ekspedisi ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan memahami fitur geologi aktif, terutama struktur sesar naik yang menunjukkan tanda-tanda aktivitas seismik di masa lalu. Ditemukan jejak morfologi yang unik antara pantai utara Jawa dan kota Semarang, yang memperlihatkan batas morfologi tajam antara area datar di utara dan area lebih tinggi di selatan.
Sonny Aribowo, seorang peneliti di bidang Paleoseismologi dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, menyatakan, “Sesar di Semarang ini sudah pasti ada dan aktif karena ditemukan batuan atau endapan yang menjadi indikatornya,” dalam keterangannya pada Minggu (10/8/2025).
Ekspedisi ini melintasi tiga zona utama, yaitu Zona Timur (Demak), Zona Kota (Semarang), dan Zona Barat (Kendal). Di Zona Timur, ditemukan gawir sesar berupa lereng curam setinggi 1 meter di atas endapan aluvial muda yang diperkirakan terjadi akibat satu kejadian gempa. Lokasi ini sangat cocok untuk survei geolistrik dan pemetaan lanjutan dengan LiDAR. Survei geolistrik adalah metode untuk melihat struktur bawah tanah dengan menggunakan listrik.
Di Zona Kota, struktur serupa ditemukan di area Taman Makam Pahlawan dengan ketinggian gawir mencapai 4 meter. Namun, pelacakan lebih lanjut akan dilakukan dengan geolistrik, mengingat daerah ini merupakan kawasan perkotaan yang telah banyak dimodifikasi oleh manusia.
Sementara itu, di Zona Barat, kawasan Bendungan Juwero diidentifikasi sebagai titik yang paling menjanjikan dengan jejak gawir sesar antara 0,5-3 meter dan singkapan sesar aktif yang menunjukkan aktivitas tektonik Holosen, yaitu pergerakan kerak bumi selama 11.700 tahun terakhir hingga saat ini. Bahkan, beberapa bagian sesar terangkat hingga 20 meter di atas sungai, menjadi bukti nyata pergerakan kerak bumi dalam skala waktu geologis.
Semarang dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki patahan panjang yang masih diteliti lebih lanjut untuk memastikan apakah berasal dari satu segmen sesar yang sama atau terdiri dari beberapa segmen berbeda. Jika berasal dari satu sesar utuh, maka potensi magnitudo gempa yang dihasilkan akan lebih besar.
Menariknya, bagian paling panjang dari patahan tersebut berada di utara Semarang, bahkan lebih panjang dari Sesar Lembang, menunjukkan potensi gempa yang lebih kuat.
“Kalau dari permukaan, sesarnya terlihat putus-putus, jadi bisa jadi berbeda segmen. Namun, pada ekspedisi Agustus/September mendatang akan dilakukan trenching di lokasi tersebut untuk melihat berapa periode ulang gempa yang terjadi,” tambahnya.
Menindaklanjuti temuan ini, ekspedisi lanjutan akan dilakukan pada Agustus 2025 dengan fokus pada pengambilan 10 sampel ilmiah untuk analisis lanjutan, pemetaan tujuh lokasi, serta finalisasi satu draf publikasi ilmiah.
Sesar aktif yang ditemukan di Semarang dan sekitarnya menyimpan informasi penting tentang potensi gempa bumi. Dengan dokumentasi dan pemetaan yang akurat, hasil riset ini dapat menjadi landasan ilmiah untuk mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, dan edukasi masyarakat mengenai risiko geologi yang tersembunyi.
(wur/wur)