Arab Saudi Undang Indonesia Investasi di Sektor Tambang Bernilai US$ 2,5 Triliun
Jakarta – Pemerintah Arab Saudi sedang mengeksplorasi peluang kemitraan strategis di bidang pertambangan dan menawarkan kesempatan investasi baru kepada Indonesia.
Hal ini dilakukan bersamaan dengan kunjungan Menteri Industri dan Mineral Arab Saudi, Bandar Al-Khorayef, ke Indonesia, di mana ia mengadakan sejumlah pertemuan tingkat tinggi dengan pejabat terkemuka di negara tersebut.
Melalui Manara Minerals, sebuah usaha patungan antara Perusahaan Pertambangan Arab Saudi (Ma’aden) dan Dana Investasi Publik (PIF), Arab Saudi memiliki cadangan mineral yang belum dieksploitasi senilai sekitar US$ 2,5 triliun atau setara dengan Rp 42.123 triliun.
Dengan cadangan mineral yang signifikan ini, Arab Saudi berupaya mempercepat investasi internasional di sektor pertambangan untuk menjamin pasokan mineral penting yang dibutuhkan di dalam negeri di masa depan.
Arab Saudi aktif dalam membangun kemitraan strategis internasional, termasuk dengan Indonesia, guna mengamankan bahan baku penting, menarik teknologi hilir, dan memperkuat rantai pasokan global.
Sementara itu, Indonesia dianggap memiliki peluang besar untuk investasi jangka panjang, pertukaran teknologi, dan integrasi rantai nilai, mengingat kekayaan cadangan nikel dan mineral penting lainnya yang dimilikinya.
Dengan meningkatnya permintaan global terhadap mineral penting, khususnya logam baterai seperti nikel, Indonesia telah memposisikan diri sebagai pemimpin global di sektor pertambangan.
Setelah Indonesia memberlakukan kebijakan penghentian ekspor bijih nikel pada tahun 2022, Arab Saudi menilai langkah ini menjadikan Indonesia sebagai mitra penting dalam pencapaian target iklim global.
Selain itu, Khorayef menyatakan bahwa Indonesia dan Arab Saudi memiliki fokus yang sejalan dengan visi Arab Saudi tahun 2030.
Dengan demikian, diharapkan Arab Saudi dan Indonesia dapat mempercepat eksplorasi wilayah baru (green field exploration), mengungkap potensi kekayaan mineral Arab Saudi senilai US$ 2,5 triliun, dan mendukung pengembangan rantai pasok mineral yang berkelanjutan dan bernilai tambah.
Pada Forum Mineral Masa Depan terakhir bulan Januari lalu, Arab Saudi mengumumkan putaran kesembilan peluang eksplorasi di tiga sabuk mineral utama yang mencakup wilayah seluas 24.946 km2 sebagai bagian dari rencana yang lebih besar untuk menawarkan lisensi eksplorasi di lebih dari 50.000 km2 pada tahun 2025. Dalam pertemuan di Indonesia.
Menteri Industri dan Mineral Arab, Bandar Al-Khorayef, mengundang investor Indonesia untuk berpartisipasi dalam putaran kesembilan lisensi eksplorasi di Arab Saudi, yang mencerminkan komitmen Kerajaan untuk memperdalam kemitraan internasional di sektor mineral dan pertambangan.
Sabuk mineral yang ditargetkan, yang terletak di wilayah Madinah dan Riyadh, mengandung mineral utama seperti emas, tembaga, perak, seng, dan nikel.
“Perusahaan Indonesia didorong untuk memanfaatkan berbagai insentif investasi yang kuat, termasuk pendanaan hingga 75% dari biaya modal melalui Dana Pengembangan Industri Arab Saudi, hak kepemilikan asing penuh, serta akses terhadap data geologi terperinci melalui platform Taade’en. Dengan Manara Minerals sebagai ujung tombak strategi investasi luar negeri Arab Saudi, kemitraan masa depan dengan mitra Indonesia akan dibangun tidak hanya berdasarkan potensi komersial, tetapi juga komitmen bersama terhadap pengelolaan lingkungan dan pembangunan sosial ekonomi,” ungkap Al-Khorayef dalam keterangan resminya, Kamis (17/04/2025).
Ia menambahkan, kunjungannya ke Indonesia juga untuk menegaskan kembali peran kepemimpinan Arab Saudi dalam memajukan kolaborasi global, mempromosikan ketahanan, dan mendukung pasokan mineral yang bertanggung jawab untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat.
“Seiring dengan perubahan lanskap global, Arab Saudi dan Indonesia siap memainkan peran penting dalam pemasokan mineral yang akan mendukung masa depan energi bersih dunia, sekaligus berkontribusi pada kesejahteraan kedua negara dan masyarakatnya,” tandasnya.