Harga Minyak Kembali ke Level Era Covid-19, WTI Capai US$ 58 per Barel
Jakarta, PANGKEP NEWS – Harga minyak mengalami penurunan tajam pada April 2025, memperpanjang tren penurunan harga minyak yang terjadi pada masa kepemimpinan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Menurut data Refinitiv, harga minyak Brent pada penutupan perdagangan terakhir bulan April, tepatnya Rabu, 30 April 2025, berada di level US$ 63,12 per barel. Ini menunjukkan penurunan sebesar 1,8% dibandingkan hari sebelumnya.
Penurunan ini juga memperpanjang tren negatif harga minyak yang turun 5,6% selama empat hari berturut-turut. Harga tersebut adalah yang terendah sejak 8 April 2025. Level harga minyak Brent saat ini di US$ 63 adalah yang terendah sejak April 2021, masa ketika dunia dilanda pandemi Covid-19. Situasi serupa juga terjadi pada minyak WTI. Pada perdagangan sebelumnya, harga minyak Brent turun 3,66% menjadi US$ 58,21 per barel. Harga minyak Brent sudah jatuh 7,6% dalam empat hari terakhir dan merupakan level terendah sejak pertengahan April 2021, masa pandemi Covid-19.
Harga minyak belum menunjukkan perbaikan hari ini. Pada Kamis, 1 Mei 2025, pukul 07.30 WIB, harga minyak Brent tercatat di posisi US$ 61,29 per barel atau melemah 2,9%, sementara WTI naik tipis 0,31% ke US$ 58,39 per barel.
Penurunan harga minyak ini disebabkan oleh rencana beberapa anggota OPEC+ yang akan mengusulkan percepatan peningkatan produksi minyak pada bulan Juni untuk bulan kedua berturut-turut.
Selain itu, ekonomi AS mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pada kuartal pertama, akibat gelombang impor yang meningkat karena bisnis berusaha menghindari biaya tarif yang lebih tinggi.
AS adalah konsumen minyak terbesar dunia, sehingga kontraksi ekonomi dapat menyebabkan penurunan permintaan minyak. Pelemahan ekonomi AS dikhawatirkan akan berdampak pada negara lain, sehingga permintaan energi menurun.
Tarif yang diterapkan Trump meningkatkan kemungkinan ekonomi global akan jatuh ke dalam resesi tahun ini.
Prospek permintaan yang suram akibat ketegangan perdagangan antara AS dan China, ditambah dengan keputusan OPEC+ untuk mengakhiri pembatasan pasokan, diperkirakan akan menekan harga minyak sepanjang tahun ini.
Hasil survei Reuters terhadap 40 ekonom dan analis pada bulan April memperkirakan harga rata-rata minyak Brent akan berada di angka $68,98 per barel pada tahun 2025, turun dari perkiraan bulan Maret sebesar $72,94. Minyak mentah AS diprediksi rata-rata akan mencapai $65,08 per barel, lebih rendah dari proyeksi bulan sebelumnya sebesar $69,16.
April Menandai Penurunan Drastis Harga Minyak
Secara bulanan, harga minyak turun 15,6% dalam sebulan pada April 2025, penurunan terburuk sejak November 2021.
Penurunan harga minyak mentah dunia telah berlangsung sejak masa jabatan kedua Trump. Sejak Trump dilantik pada 20 Januari 2025 hingga saat ini, harga minyak Brent telah jatuh 24,2% sedangkan WTI turun 25%.
Perusahaan jasa ladang minyak seperti Baker Hughes, Halliburton, dan SLB memperingatkan bahwa investasi dalam eksplorasi, pengeboran, dan produksi akan melambat tahun ini karena jatuhnya harga minyak. Saham Baker Hughes dan SLB telah turun lebih dari 20% sejak pelantikan Trump, sementara Halliburton merosot 32%.
Sektor energi S&P 500 telah turun lebih dari 11% sejak 20 Januari, lebih dari penurunan pasar yang lebih luas yang hampir mencapai 8%.
CEO SLB, Olivier Le Peuch, mengatakan kepada investor minggu lalu bahwa tarif Trump menyebabkan ketidakpastian ekonomi yang dapat mengurangi permintaan, sementara kelompok produsen yang dikenal sebagai OPEC+ mempercepat pasokan lebih cepat dari yang diantisipasi sebelumnya.
“Dalam lingkungan ini, harga komoditas menghadapi tantangan dan sampai harga stabil, pelanggan cenderung mengambil pendekatan yang lebih hati-hati terhadap aktivitas jangka pendek dan pengeluaran diskresioner,” ujar Le Peuch.
Pengeboran Berkurang
Pasar minyak bumi Amerika Utara menghadapi risiko penurunan yang lebih besar daripada pasar minyak di seluruh dunia karena produksi minyak di darat di AS lebih sensitif terhadap harga komoditas, menurut CEO SLB.
Baker Hughes memperkirakan investasi hulu global dalam eksplorasi dan produksi akan menurun hingga satu digit tahun ini dibandingkan dengan tahun 2024, dengan pengeluaran di Amerika Utara turun hingga dua digit, menurut CEO Lorenzo Simonelli.
“Prospek pasar minyak yang kelebihan pasokan, kenaikan tarif, ketidakpastian di Meksiko, dan melemahnya aktivitas di Arab Saudi secara kolektif membatasi tingkat pengeluaran hulu internasional,” ujar Simonelli kepada PANGKEP NEWS International.
Namun, situasinya masih belum pasti, dengan sedikit gambaran tentang apa yang akan terjadi pada paruh kedua tahun ini, terutama untuk kegiatan yang lebih sensitif secara ekonomi seperti pengeboran dan penyelesaian sumur, menurut kepala Baker Hughes. Bahkan ada risiko bahwa prospek dapat memburuk lebih jauh, katanya.
“Harapan ini mengasumsikan stabilisasi harga minyak di sekitar level saat ini dan tarif berlaku pada tingkat jeda 90 hari saat ini. Penurunan harga minyak yang berkelanjutan atau tarif yang memburuk akan menimbulkan risiko penurunan lebih lanjut pada prospek ini,” menurut Simonelli kepada PANGKEP NEWS International.
PANGKEP NEWS RESEARCH