Ahli Parenting Jelaskan Pola Asuh yang Memicu Kesuksesan Anak
Jakarta, PANGKEP NEWS – Pola asuh memiliki peran krusial dalam membentuk masa depan anak. Namun, banyak orang tua yang masih kebingungan dalam menentukan pola asuh yang tepat untuk buah hati mereka.
Dokter anak dari Amerika Serikat, dr. Mona Amin, menyatakan bahwa pola pengasuhan otoriter dan otoritatif kerap dipilih oleh orang tua. Sayangnya, kedua pola ini sering kali disalahpahami dalam penerapannya. Berikut ini perbedaan di antara keduanya.
Pola Asuh Otoriter
dr. Mona Amin mendeskripsikan gaya pengasuhan otoriter sebagai pendekatan yang tegas dan kaku. Gaya ini menuntut orang tua untuk sepenuhnya mengendalikan dan mengontrol anak, namun kurang memberikan kehangatan dan dukungan emosional.
Gaya pengasuhan ini memang bisa membuat anak patuh terhadap aturan, tetapi anak bisa mengalami kesulitan dalam bersosialisasi.
“Tidak banyak diskusi atau kerja sama. Bayangkan orang tua yang mengatakan, ‘Lakukan’ karena saya bilang begitu,” ujar Mona Amin.
Orang tua yang bersifat otoriter cenderung tidak mengkomunikasikan batasan dan lebih memilih memberikan hukuman ketika anak berbuat kesalahan. Seringkali, hukuman ini tidak proporsional dengan situasi.
“Orang tua otoriter mungkin berkata, ‘Jangan menangis. Kamu tidak boleh bermain,'” tambah Amin.
“Tidak ada pengakuan terhadap perasaan, dan justru ada ancaman,” jelasnya.
Meski gaya ini bisa membuat anak penurut dalam jangka pendek, dampaknya bisa merugikan dalam jangka panjang. Anak-anak yang dibesarkan dalam pola ini sering kali kesulitan mengekspresikan perasaan mereka dan lebih rentan terhadap gangguan kecemasan dan masalah kesehatan mental.
Psikolog perkembangan, Aliza Pressman, mengatakan bahwa dampak langsung dari pola asuh otoriter juga tidak positif. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan ini merasa lebih takut daripada terhubung dengan orang tuanya, yang dapat membuat mereka berbohong untuk menghindari hukuman.
Pola Asuh Otoritatif
Pola asuh otoritatif adalah yang paling positif bagi perkembangan anak dibandingkan pola-pola lainnya.
Orang tua yang menerapkan pola ini menetapkan aturan yang jelas dan tegas. “Ada ekspektasi yang tinggi, namun juga diiringi dengan dukungan yang besar,” kata dr. Amin.
Contohnya, jika anak diminta membersihkan kamar dan tidak melakukannya, orang tua tidak langsung menghukum. Sebaliknya, mereka akan mengajak anak berdiskusi mengenai pentingnya kebersihan dan memvalidasi perasaan anak, misalnya jika anak merasa tugas tersebut berat, tetapi tetap menuntut mereka menyelesaikannya.
Pola pengasuhan ini mungkin memerlukan lebih banyak kesabaran, tetapi efek jangka panjangnya sangat positif. Anak yang dibesarkan dengan pola ini cenderung lebih mampu mengendalikan emosi, mandiri, bertanggung jawab, kooperatif, dan terbuka.
“Penelitian menunjukkan bahwa pola asuh ini menghasilkan anak-anak dan orang dewasa yang lebih kompeten dan terkendali emosinya, serta lebih baik dalam mengelola stres dan menghadapi tantangan hidup,” ungkap Amin.
Anak-anak merasa lebih aman dengan orang tua yang berwibawa, bukan hanya karena empati yang lebih besar, tetapi juga karena aturan yang dikomunikasikan dengan jelas.
“Mereka dipandu oleh batasan yang Anda tetapkan, namun tetap memiliki kebebasan untuk mengekspresikan diri dengan aman,” tambahnya.
Ketika mereka dewasa, anak-anak ini memiliki lebih banyak kepercayaan diri dan kemampuan untuk mengatur emosi mereka, serta menjalin hubungan yang lebih baik.
“Ruang gerak yang diberikan orang tua kepada anaknya saat ia mengamuk dapat membuat anak lebih patuh. Merasa dicintai untuk siapa mereka dan bukan bagaimana mereka berperilaku, cenderung membuat mereka berperilaku lebih baik dalam jangka panjang,” ujar Pressman.