AS Memasang Senjata Hipersonik di Dekat RI, Ada Apa?
Jakarta, PANGKEP NEWS – Amerika Serikat (AS) telah memutuskan untuk menempatkan senjata hipersonik di wilayah Australia Utara. Langkah ini diambil setelah latihan militer antara Washington dan Canberra pada bulan Juli lalu.
Menurut laporan dari Newsweek, senjata yang ditempatkan adalah Senjata Hipersonik Jarak Jauh (Long-Range Hypersonic Weapon/LRHW) yang diuji dalam latihan Talisman Sabre 2025. Sistem LRHW, yang dikenal dengan nama ‘Dark Eagle’, mampu menyerang dengan presisi pada jarak jauh dengan memanfaatkan kecepatan hipersonik.
Laksamana Samuel J. Paparo, komandan Komando Indo-Pasifik AS, menyatakan dalam siaran pers bahwa penempatan ini menunjukkan kemampuan Angkatan Darat untuk mengerahkan, menempatkan, serta melatih komando dan kontrol atas teknologi canggih ini di lokasi-lokasi strategis di seluruh wilayah.
Pengerahan sistem LRHW ke Australia menandai pencapaian penting bagi Komando Indo-Pasifik AS, karena ini membuktikan kemampuan Angkatan Darat untuk mengerahkan, menempatkan, dan menjalankan komando serta kendali (C2) dari sistem tersebut di lingkungan garis depan.
Menurut laporan dari Layanan Penelitian Kongres yang diterbitkan pada bulan Juni, LRHW memiliki jangkauan sekitar 1.725 mil (sekitar 2.775 km), menjadikannya sistem serangan berbasis darat dengan jangkauan terpanjang dalam persenjataan AS.
Sistem ini memanfaatkan bodi luncur hipersonik umum dan pendorong roket dua tahap yang dikembangkan oleh Angkatan Laut. Pada bulan Mei, Angkatan Laut juga mengumumkan keberhasilan uji coba penerbangan dari rudal hipersonik konvensional dari Stasiun Angkatan Luar Angkasa Cape Canaveral, Florida.
Ini adalah peluncuran pertama dari kemampuan Serangan Cepat Konvensional yang menggunakan metode peluncuran gas dingin dari Angkatan Laut.
Perkembangan ini terjadi di tengah persaingan ketat antara AS, China, dan Rusia dalam pengembangan senjata hipersonik. Meskipun AS berada di belakang dua negara lainnya dalam hal kecepatan pengembangan, langkah baru di bawah pemerintahan yang baru menunjukkan minat yang diperbarui untuk mengejar ketertinggalan.
Para ahli percaya bahwa momentum baru ini bisa menjadi titik balik dalam perlombaan tersebut. Pengembangan LRHW tidak lepas dari tantangan dan penundaan yang juga dihadapi program-program hipersonik lainnya.
Pengembangan senjata hipersonik telah menjadi prioritas utama bagi Pentagon dan Kongres. Permintaan anggaran Pentagon untuk penelitian hipersonik pada tahun fiskal 2025 adalah US$ 6,9 miliar (sekitar Rp113,16 triliun), meningkat dari US$ 4,7 miliar (sekitar Rp77,08 triliun) pada tahun fiskal 2023. Peningkatan pendanaan ini menunjukkan komitmen serius AS untuk mempercepat pengembangan dan penempatan sistem hipersonik.