CIA Picu Kerusuhan, Pemimpin Iran Terguling untuk Keuntungan
Jakarta, PANGKEP NEWS – Badan Intelijen Amerika Serikat (Central Intelligence Agency, CIA) pernah menyusun skenario kerusuhan yang berhasil menggulingkan tokoh besar sekaligus pemimpin utama Iran. Alasan utama adalah penolakannya untuk bekerjasama dalam bisnis tambang minyak dan keputusannya untuk menasionalisasi aset minyak yang dikuasai Inggris.
Keputusan ini menjadikannya pahlawan di mata rakyat Iran, namun sosoknya sangat dibenci di negara-negara Barat.
Nasionalisasi Tambang Minyak
Tokoh penting tersebut adalah Mohammad Mossadegh. Pada tahun 1951, Mossadegh dilantik menjadi Perdana Menteri Iran.
Ketika itu, Iran masih merupakan monarki dengan Mohammad Reza Pahlavi sebagai kepala negara. Mossadegh berhasil menjadi pemimpin tertinggi Iran berkat gagasan nasionalisasi tambang minyak.
Sejak 1800-an, produksi minyak di Iran didominasi oleh Inggris, dengan semua produksi dibawa ke Eropa tanpa memberi keuntungan bagi rakyat Iran sendiri. Kondisi ini semakin memburuk setelah berdirinya The Anglo-Persian Oil Company (APOC) pada awal 1900-an.
Pengaruh Inggris yang begitu besar dianggap Mossadegh sangat membahayakan, dengan keuntungan yang tidak mengalir ke masyarakat Iran.
Sistem politik pun rentan intervensi dari Inggris. Dengan dasar ini, Mossadegh mengusung ide nasionalisasi yang menarik perhatian besar masyarakat.
“Nasionalisasi adalah ide yang tak bisa diganggu gugat,” ungkap Mossadegh, dikutip dari The Anglo-Iranian Oil Dispute of 1951-1952 (1954).
Pada 20 Maret 1951, Mossadegh akhirnya berhasil membuat UU Nasionalisasi disahkan, meski ide serupa sebelumnya pernah dicetuskan oleh PM sebelumnya yang kemudian dibunuh. Aturan ini membuat Iran berhak mengambil alih paksa perusahaan tambang minyak Inggris.
Dikudeta CIA
Inggris dan Mohammad Reza Pahlavi marah terhadap kebijakan Mossadegh. Pahlavi memang sejak awal pro-Barat dan mendukung eksistensi Inggris di Iran.
Mossadegh tidak tinggal diam dan tetap melakukan nasionalisasi meskipun Inggris mengajak negosiasi dan kepala negara tidak mendukungnya.
Setelah negosiasi buntu dan Inggris memberikan sanksi ekonomi, AS merasa perlu memberikan bantuan kepada sekutu terdekatnya, Inggris.
Pria kelahiran 16 Juni 1882 ini pun menjadi sosok yang paling dibenci di negara Barat. CIA turun tangan pada tahun 1953.
Dalam arsip rahasia yang dibuka ke publik tahun 2019 berjudul “The Central Intelligence Agency and The Fall of Iranian Prime Minister Mohammed Mossadeq, August 1953”, CIA memandang Mossadegh sebagai diktator.
“Mossadegh tampak dengan cepat berubah. […] Perdana Menteri makin bersikap diktator,” ungkap CIA.
CIA menggelontorkan dana sebesar US$ 1 juta untuk membangkitkan amarah rakyat terhadap kepemimpinan Mossadegh. Semua ini bertujuan menggulingkan kekuasaan PM Iran ke-35 tersebut.
Dalam skenario, CIA menghasut ribuan rakyat untuk tidak percaya pada kepemimpinan Mossadegh. Mereka diminta menciptakan kerusuhan hingga situasi politik menjadi tidak stabil. Dari sini, Mossadegh digulingkan atas nama rakyat yang bekerja di bawah pengaruh CIA.
Skenario ini akhirnya berhasil. Pada 15-19 Agustus 1953, kerusuhan terjadi di Teheran. Mossadegh menyerahkan kekuasaannya dan terpaksa menjalani hukuman di penjara.
PM Iran yang baru kemudian dilantik dan langsung mengizinkan Inggris kembali melakukan penambangan minyak. Usaha nasionalisasi untuk kepentingan masyarakat pun gagal total, dan rakyat Iran kembali terpuruk tanpa merasakan keuntungan dari tambang minyak.
Mossadegh sendiri wafat sebagai tahanan rumah pada 5 Maret 1967. Setelah wafat, ia dianggap pengkhianat oleh pemerintah baru Iran. Nama baiknya baru pulih pada 1979 setelah Republik Islam Iran terbentuk.