Ekonomi Sirkular: Solusi Sinergi Pertumbuhan dan Emisi
Catatan: Artikel ini adalah opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan Redaksi PANGKEP NEWS
Di bawah pimpinan Presiden Prabowo Subianto Djojohadikusumo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Indonesia terus berupaya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Namun, fokus utama masih pada satu indikator: Produk Domestik Bruto (PDB).
Sayangnya, PDB hanya menilai seberapa banyak kita memproduksi dan mengonsumsi, tanpa memperhitungkan dampak lingkungan dan ketimpangan sosial yang muncul dari proses tersebut. Oleh karena itu, penulis berpendapat sudah saatnya kita mempertimbangkan pendekatan baru, yakni ekonomi sirkular. Dalam sistem ini, produk dan bahan dirancang agar bisa digunakan kembali, diperbaiki, atau didaur ulang.
Sebagai contoh, pakaian bekas bisa dijual kembali, perangkat elektronik dapat diperbaiki, dan kemasan bisa dipakai ulang. Pendekatan ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga membuka peluang bisnis baru dan efisiensi biaya operasional bagi para pelaku usaha. Model ini sangat cocok dengan kondisi Indonesia, di mana banyak sektor informal seperti tukang servis, pasar barang bekas, dan pelaku daur ulang sudah ada secara alami.
Tantangannya adalah mengintegrasikan mereka ke dalam sektor formal yang produktif dan kompetitif, sebuah tugas yang memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak. Secara global, pendekatan sirkular bisa mengurangi emisi karbon hingga 39 persen dan mengurangi penggunaan material baru sebesar 28 persen, menurut Circularity Gap Report 2023.
Di dalam negeri, Indonesia menghasilkan lebih dari 18 juta ton limbah nonorganik setiap tahun, termasuk limbah tekstil, plastik, dan elektronik. Ini adalah potensi ekonomi besar jika dikelola dengan pendekatan sirkular. Pengalaman dari implementasi Perjanjian Paris, yang disahkan pada 12 Desember 2015 di Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP21) di Paris, menunjukkan bahwa negara berkembang mengalami kesulitan dalam mengurangi emisi jika pertumbuhan ekonomi hanya diukur dari PDB.
Penulis berpendapat kita membutuhkan indikator yang lebih adil dan mencerminkan realitas negara berkembang. Oleh karena itu, ekonomi sirkular hadir sebagai solusi. Ekonomi sirkular dapat menjadi solusi yang menyelaraskan pertumbuhan dan keberlanjutan. Ini bukan pilihan antara satu dan yang lain, melainkan bagaimana keduanya dapat berjalan beriringan. Pemerintah, dunia usaha, dan sektor pendidikan memiliki peran penting dalam mendorong transisi ini. Kita tidak harus menghentikan pertumbuhan ekonomi, tetapi mengarahkannya ke jalur yang lebih cerdas dan berkelanjutan.
(miq/miq)