Negara dengan Penguasaan Drone Tempur Terbesar, AS dan Turki Terus Bersaing
Jakarta – Pesawat udara tanpa awak, atau biasa dikenal sebagai drone, kini menjadi komponen penting dalam kekuatan militer udara. Drone sering kali digunakan dalam operasi militer karena menawarkan efisiensi biaya lebih tinggi dibandingkan senjata konvensional lainnya.
Selain dari segi harga yang lebih ekonomis, penggunaan drone tempur dapat memangkas biaya dengan mengurangi kebutuhan tenaga kerja manual. Maka, tidak mengherankan jika banyak negara atau unit militer memiliki stok drone tempur yang besar untuk meningkatkan kemampuan pertahanan mereka.
Dalam konteks militer, drone dimanfaatkan untuk berbagai misi seperti intelijen, pengawasan, akuisisi target, hingga kegiatan pengintaian. Banyak negara telah berhasil mengembangkan dan memiliki drone untuk memperkuat angkatan bersenjatanya.
Saat ini, Amerika Serikat (AS) memimpin dunia dalam teknologi drone, dengan memiliki 444 unit drone. Pengalaman AS dalam mengembangkan arsitektur, desain, dan penggunaan teknologi drone memberikan keunggulan besar. Militer Amerika memanfaatkan drone dalam berbagai misi, mulai dari serangan hingga komunikasi.
Di posisi kedua, Turki dengan kepemimpinan Recep Tayyip Erdogan memiliki 443 unit drone. Dengan jumlah ini, Turki telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam teknologi drone di kancah internasional.
Turki berambisi menjadi pelopor dalam pengembangan drone. Menurut Erdogan, pencapaian Turki dalam teknologi ini merupakan bukti keberhasilan dalam industri pertahanan.
China, yang dikenal sebagai Negeri Tirai Bambu, memiliki 160 unit drone. Menyadari potensi pasar internasional yang besar, China berinvestasi dalam produksi drone.
Penggunaan drone memungkinkan China untuk mengakses wilayah udara yang diperebutkan tanpa menimbulkan ancaman langsung. China terus menjadi pemain kunci di pasar drone dengan menekankan kolaborasi antara sektor publik dan swasta dalam pengembangan teknologi ini.
Di posisi keempat, Pakistan dengan 113 unit drone. Pakistan mengakui pentingnya drone dalam peperangan abad ke-21 dan memulai pengembangan drone untuk tujuan pengawasan dan serangan.
Drone unggulan Pakistan untuk misi penyelamatan adalah Sharper II, yang dirancang dan diproduksi oleh GIDS, perusahaan kedirgantaraan milik negara tersebut. Drone ini memiliki daya terbang hingga 14 jam.
Di urutan kelima, Rusia, negara adidaya kedua, memiliki 100 unit drone. Industri kedirgantaraan Rusia memiliki kapasitas untuk memproduksi dan mengembangkan drone. Rusia memanfaatkan teknologi ini untuk mengidentifikasi dan melacak pasukan Ukraina serta memasok data kepada separatis.
Berdasarkan data dari armedforces.eu, berikut adalah negara-negara dengan jumlah drone terbanyak di dunia:
PANGKEP NEWS INDONESIA RESEARCH