Strategi Diplomasi Impor Migas Indonesia: “Sinyal ke Kanan, Belok ke Kiri?”
Catatan: Artikel ini adalah opini pribadi penulis dan tidak menggambarkan pandangan Redaksi PANGKEP NEWS.
Baru-baru ini, pemerintah Indonesia mengumumkan rencana untuk meningkatkan impor minyak dan gas bumi (migas) dari Amerika Serikat hingga 40% dari total impor migas. Rencana ini dipicu oleh kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menaikkan tarif bea masuk dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Langkah resiprokal dalam hubungan internasional adalah hal yang lazim dilakukan untuk melindungi kepentingan masing-masing negara. Rencana untuk mengimpor migas dari AS dalam jumlah besar ini dimaksudkan sebagai alat tawar menawar agar AS mengurangi tarif bea masuk untuk barang-barang dari Indonesia.
Berdasarkan informasi dari pejabat Indonesia, AS memberlakukan tarif sebesar 32% terhadap impor dari Indonesia. Namun, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa tarif tersebut bisa mencapai 47%. Hal ini jelas membuat produk Indonesia kurang kompetitif di pasar AS dan bisa mengancam ekspor.
Namun, hanya dua bulan setelah kontroversi tarif impor ala Trump dan rencana impor masif migas dari AS, Presiden Prabowo Subianto mengunjungi Rusia dan tidak menghadiri pertemuan G7. Berita mengejutkan dari kunjungan ini adalah kemungkinan Indonesia akan mengimpor migas dari Rusia.
Mari kita lihat kembali berita mengenai impor migas di kuartal pertama tahun ini. Pada 23 April 2025, PANGKEP NEWS melaporkan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor migas selama Januari-Maret 2025 mencapai US$ 9 miliar atau sekitar Rp 145,8 triliun (asumsi kurs Rp 16.200 per US$), naik 8,13% dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebesar US$ 8,33 miliar.
Impor migas pada kuartal I 2025 terdiri dari minyak mentah sebesar US$ 2,4 miliar dan minyak olahan sebesar US$ 6,6 miliar. Pada Maret 2025, impor migas tercatat US$ 3,33 miliar, meningkat 11,64% dari Februari 2025 yang sebesar US$ 2,98 miliar. Impor minyak mentah Indonesia selama Januari-Februari 2025 mencapai US$ 1,5 miliar atau Rp 25,5 triliun, dengan volume 2,6 juta ton.
Menurut data BPS, mayoritas impor minyak mentah Indonesia berasal dari Arab Saudi, Angola, Nigeria, Amerika Serikat, Australia, dan negara lainnya. Berikut ini data impor minyak mentah Indonesia hingga Februari 2025:
- Arab Saudi: 735 ribu ton, US$ 439 juta
- Angola: 618,3 ribu ton, US$ 350 juta
- Nigeria: 503 ribu ton, US$ 296 juta
- Amerika Serikat: 214 ribu ton, US$ 139 juta
- Australia: 153 ribu ton, US$ 102 juta
- Lainnya: 413 ribu ton, US$ 243 juta
Impor Solar atau HSD pada Januari-Februari 2025 mencapai 1,2 juta ton dengan nilai US$ 939,1 juta. Mayoritas impor HSD berasal dari Singapura, Uni Emirat Arab, Malaysia, dan lainnya.
Data menunjukkan bahwa impor migas dari Arab Saudi, Angola, dan Nigeria sangat signifikan. Namun, dari perspektif diplomasi dan hubungan internasional, ini menimbulkan pertanyaan mendasar.
Nilai perdagangan yang besar ini dianggap tidak memberikan dampak timbal balik ekonomi yang signifikan bagi Indonesia, baik dari segi investasi, perdagangan antarnegara, maupun dalam konteks non-ekonomi seperti politik luar negeri.
Rencana impor migas dari Rusia lebih beralasan secara ekonomi maupun politik, terutama jika terjadi timbal balik ekonomi berupa investasi Rusia ke Indonesia. Namun, jika ini terjadi, bagaimana dampaknya terhadap hubungan Indonesia-AS? Dan bagaimana pengaruhnya terhadap negosiasi penurunan tarif dengan AS?
Diketahui bahwa Rusia memiliki surplus pasokan minyak dan gas sejak diembargo oleh AS dan Eropa karena konflik Ukraina. Pada awal perang Ukraina, suplai minyak Rusia ke pasar dunia diperkirakan mencapai 3 juta barel per hari, yang terganggu akibat sanksi dari AS dan Eropa, sehingga perlu mencari pasar baru.
Pertamina menyebutkan bahwa Indonesia pernah mengimpor minyak dari Rusia secara spot pada tahun 2024 melalui tender, tetapi volumenya kecil dibanding impor dari Arab Saudi, Angola, Nigeria, dan AS.
Partisipasi Indonesia dalam BRICS diharapkan dapat meningkatkan kerja sama ekonomi dengan negara-negara anggota BRICS, terutama Rusia. Kerja sama dalam perdagangan migas adalah salah satu potensinya, apalagi kondisi Timur Tengah memanas akibat konflik Israel vs Iran yang diperburuk dengan serangan AS ke Iran. Jika perang ini membesar, dan Selat Hormuz ditutup, bagaimana dampaknya?
Perang sering dianggap sebagai pemicu kenaikan harga migas dunia. Kondisi perang jelas menjadi beban ekonomi baru bagi negara net importer migas seperti Indonesia, sehingga diplomasi dengan negara exporter minyak sangat penting untuk menjaga kebutuhan energi migas.
Banyak faktor yang harus dipertimbangkan saat mengalihkan impor migas dari satu negara ke negara lain. Bukan hanya soal harga, pasokan, kualitas, dan jarak, tetapi hubungan internasional selalu bersifat resiprokal.
Meskipun politik luar negeri Indonesia bebas aktif, dalam diplomasi impor migas untuk ketahanan energi, jangan heran jika strategi yang diadopsi serupa dengan emak-emak mengendarai motor dengan “Sinyal ke Kanan, Belok ke Kiri”.
(miq/miq)