Dunia Belum Siap Berpisah dari Batu Bara: Kebutuhan Energi Murah Manusia
Jakarta, PANGKEP NEWS Indonesia- Batu bara sering kali disebut sebagai energi masa lalu yang merupakan sumber polutan terbesar. Namun, di Asia, popularitasnya masih bertahan, bahkan lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.
Saat dunia berupaya menuju energi bersih, realitas di lapangan menunjukkan situasi yang lebih rumit. Permintaan listrik meningkat tajam, teknologi bersih belum sepenuhnya siap, dan keamanan energi masih menjadi prioritas utama.
Konflik Rusia-Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, dan persaingan global untuk kecerdasan buatan (AI) meningkatkan permintaan listrik secara signifikan. Di banyak negara Asia, dari India hingga Indonesia, batu bara tetap menjadi andalan karena harganya yang murah, tersedia secara lokal, dan mendukung lapangan kerja.
Tidak mengherankan jika meski Eropa dan Amerika Serikat mengurangi ketergantungan, Asia masih menyumbang 78% dari konsumsi batu bara global.
Batu Bara dan Realitas Energi Asia
Menurut Wood Mackenzie, puncak konsumsi batu bara global diperkirakan terjadi pada 2026. Namun, dalam skenario permintaan tinggi, puncaknya bisa tertunda hingga 2030, dengan penurunan yang lebih lambat. Ada tiga faktor kunci yang mempengaruhinya.
Pertama, keamanan dan keterjangkauan energi. India dan China menambang milyaran ton batu bara domestik setiap tahun untuk mengurangi impor.
Kemudian, peningkatan permintaan listrik. Pusat data, pabrik berenergi intensif, dan elektrifikasi massal menambah beban jaringan listrik, membuat pembangkit lama bertahan lebih lama.
Terakhir, inovasi teknologi batu bara. Dari retrofit fleksibel hingga uji coba penangkapan karbon, batu bara didorong agar lebih bersih, meskipun biaya tetap menjadi tantangan.
Usia Muda, Napas Panjang
Masalah lain yang membuat Asia sulit melepaskan batu bara adalah pembangkitnya yang relatif muda. Rata-rata usia pembangkit batu bara di kawasan ini masih belasan tahun, jauh di bawah usia teknis 50-60 tahun. Dari sudut pandang ekonomi, masih ada puluhan tahun sebelum aset ini habis masa pakai.
Indonesia dan Vietnam memiliki pembangkit termuda di Asia. Secara logika bisnis, mempensiunkan pembangkit baru yang belum mencapai titik impas jelas merupakan pilihan yang berat.
Dari sisi biaya, batu bara domestik tetap lebih murah dibandingkan dengan gas impor. Di China dan India, harga batu bara bituminus lokal hanya sekitar US$3-4 per mmbtu, sedangkan gas alam cair (LNG) impor bisa melonjak hingga US$36 per mmbtu saat krisis energi 2022. Akibatnya, banyak negara Asia memilih bertahan dengan batu bara untuk menjaga harga listrik tetap terjangkau.
Banyak harapan ditaruh pada tenaga surya, angin, dan penyimpanan energi. Namun, penyimpanan baterai belum cukup matang untuk menjadikan energi terbarukan sebagai sumber utama. Sementara itu, gas alam yang dianggap transisi lebih bersih masih terbatas di Asia, hanya 3-4% dari input bahan bakar pembangkit di China dan India.
Inovasi seperti pembakaran bersama dengan amonia/hidrogen atau penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS) sedang diuji. Jepang dan Korea Selatan memimpin uji coba, tetapi biayanya mahal dan hasilnya belum signifikan untuk menekan emisi setara gas alam.
Kesimpulannya, Asia tidak sedang anti-transisi, tetapi transisinya realistis dan bertahap. Lonjakan kebutuhan listrik, harga energi impor yang mahal, serta usia pembangkit yang masih muda membuat batu bara tetap menjadi penopang darurat di tengah ambisi net-zero.
Namun, ini bukan tanpa risiko. Jika investasi pada teknologi rendah karbon tidak dipercepat, dunia berpotensi menghadapi kenaikan suhu 3°C, yang jauh dari target Paris Agreement.
Artinya, perdebatan mengenai batu bara bukan hanya soal iklim, tetapi juga tentang keamanan energi, ekonomi, dan waktu.
PANGKEP NEWS INDONESIA RESEARCH