Jakarta dan Ancaman Nuklir: Tanaman yang Bisa Menyelamatkan
Para peneliti baru-baru ini mengkaji berbagai strategi pertahanan yang efektif untuk melindungi dunia dari bahaya nuklir. Dari temuan mereka, telah diidentifikasi jenis tanaman yang sebaiknya ditanam untuk mendukung kehidupan perkotaan jika skenario ‘kiamat’ terjadi.
Situasi global saat ini semakin memanas, terutama di antara negara-negara yang memiliki senjata nuklir, dengan ancaman penggunaan senjata tersebut semakin sering terdengar.
Sebuah studi terbaru menyarankan bahwa menanam bayam, bit gula, gandum, dan wortel di area perkotaan dan pinggiran dapat mencukupi kebutuhan pangan kota berukuran menengah dalam situasi pasca-apokaliptik.
Ilmuwan melanjutkan penelitian sebelumnya untuk menentukan tanaman terbaik yang dapat ditanam setelah bencana global, seperti perang nuklir, pandemi besar, atau badai Matahari. Tujuan utama mereka adalah mencari cara paling efisien untuk menyediakan makanan dengan penggunaan lahan sesedikit mungkin.
“Studi ini sebenarnya tidak dipicu oleh situasi geopolitik saat ini,” ungkap Matt Boyd, peneliti utama dari Adapt Research. Namun, Boyd mengakui bahwa temuan ini menjadi sangat relevan dengan kondisi geopolitik saat ini.
Peristiwa terkini, termasuk konflik internasional yang tidak terduga, perang yang masih berlangsung di beberapa wilayah, serta dampak perubahan iklim yang semakin parah, memperkuat urgensi penelitian ini.
Pada Januari 2025, melalui Jam Kiamat, para ilmuwan menunjukkan betapa dekatnya umat manusia dengan bencana yang bisa mengancam keberadaan spesies. Jam tersebut diatur mendekati tengah malam, simbol peringatan akan kehancuran dunia yang kian dekat.
Dalam studi yang dipublikasikan pada 7 Mei 2025 di jurnal PLOS One, para peneliti menganalisis bagaimana penduduk kota dengan ukuran sedang dapat bertahan hidup menggunakan pertanian jika bencana global terjadi.
Studi ini mempertimbangkan dua skenario bencana: pertama, tanaman apa yang bisa ditanam di dalam dan sekitar kota dalam kondisi iklim normal, dan kedua, tanaman apa yang cocok jika musim dingin nuklir terjadi.
Tanaman Ideal untuk Bertahan Hidup
Tanaman yang paling sesuai untuk ditanam di kota beriklim sedang dalam kondisi normal adalah kacang polong, yang merupakan sumber protein tinggi dan tumbuh baik di lingkungan perkotaan.
“Kacang polong meminimalkan lahan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi seseorang,” jelas Boyd. Namun ia menambahkan, tanaman ini tidak tahan terhadap musim dingin ekstrem yang dapat terjadi setelah perang nuklir.
Jika musim dingin nuklir terjadi, yang disebabkan oleh hambatan sinar Matahari akibat polusi di atmosfer, bayam dan bit gula akan menjadi pilihan penanaman yang lebih baik.
Boyd bersama Nick Wilson dari Otago University menggunakan data dari berbagai penelitian untuk menganalisis hasil panen di berbagai kota di dunia. Di bawah kondisi normal, kacang polong membutuhkan 292 meter persegi untuk mencukupi kebutuhan satu orang selama setahun, sementara kombinasi tanaman lain membutuhkan lahan lebih luas.
Palmerston North di Selandia Baru dipilih sebagai studi kasus, tetapi hasilnya dapat diterapkan di kota-kota dengan kondisi serupa di seluruh dunia. Dengan populasi sekitar 90 ribu, kota ini mewakili kota berukuran sedang.
Para peneliti memanfaatkan gambar satelit untuk menghitung luas ruang hijau yang dapat digunakan untuk pertanian di dalam kota. Boyd menyatakan bahwa lahan di dalam kota hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan sekitar 20% populasi dalam kondisi normal, dan 16% saat musim dingin nuklir.
Untuk mencukupi kebutuhan seluruh penduduk, diperlukan lahan di luar kota untuk menanam tanaman tambahan. Di Palmerston North, dibutuhkan sekitar 1.140 hektar lahan tambahan serta 110 hektar untuk tanaman kanola sebagai bahan biodiesel bagi mesin pertanian.
Kentang menjadi pilihan terbaik di lahan luar kota dalam kondisi normal, sedangkan kombinasi gandum dan wortel lebih cocok untuk musim dingin nuklir.
Theresa Nogeire-McRae dari American Farmland Trust menegaskan pentingnya memanfaatkan lahan subur di sekitar kota. Boyd menyebutkan bahwa variabel seperti kualitas tanah dan ketersediaan air akan memengaruhi hasil pertanian nyata.
Studi ini diharapkan menjadi dasar bagi kota-kota yang ingin mengembangkan kebijakan pertanian perkotaan yang berkelanjutan.
“Keputusan yang tampaknya optimal dari sudut pandang ekonomi mungkin kurang optimal jika memperhitungkan aspek ketahanan dan keselamatan,” ujar Boyd.