Jakarta, PANGKEP NEWS Indonesia
Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mendorong Indonesia untuk memperbesar impor energi sebagai bagian dari negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung.
Trump menjelaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari kesepakatan perdagangan yang lebih luas. “Mereka akan membayar 19% dan kami tidak akan membayar apapun… sekarang kami memiliki akses penuh ke Indonesia, dan beberapa kesepakatan energi besar akan segera diumumkan,” ujar Trump pada Selasa (15/7/2025).
Indonesia pun telah setuju untuk mengimpor produk energi dari AS senilai US$15 miliar atau sekitar Rp 244 triliun (dengan kurs Rp16.290/US$). Paket ini mencakup peningkatan impor minyak mentah, gas alam cair (LNG), batu bara metalurgi, serta listrik dan hidrokarbon cair.
Permintaan Energi Indonesia Meningkat
Berdasarkan data U.S. Energy Information Administration (EIA), konsumsi energi primer Indonesia mencapai 10,5 kuadriliun Btu pada 2023, meningkat 16% dalam sepuluh tahun terakhir. Peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan kelas menengah, peningkatan kebutuhan listrik, serta program transisi energi yang belum sepenuhnya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Saat ini, Indonesia masih mengimpor sekitar 236.000 barel minyak mentah per hari untuk memenuhi kebutuhan BBM, dengan AS mulai menggantikan peran pemasok tradisional seperti Arab Saudi. Selain itu, LNG dari AS juga mulai mendapatkan pangsa pasar di tengah penurunan produksi gas domestik.
AS Sebagai Alternatif Pemasok Energi
Selama 2020-2024, AS mencatat rata-rata ekspor energi ke Indonesia hampir US$3 miliar per tahun, termasuk minyak mentah, LNG, dan batu bara metalurgi. Impor energi seperti LNG hingga minyak masuk dalam lima besar barang yang diimpor Indonesia dari Amerika. Dengan adanya kesepakatan tarif baru, volume impor Indonesia diperkirakan akan meningkat 50%, terutama untuk:
-
Minyak mentah untuk kilang Balikpapan dan Cilacap
-
Gas alam cair (LNG) untuk pembangkit Jawa 1
-
Batu bara metalurgi untuk industri baja domestik
-
Hidrokarbon cair untuk sektor petrokimia
AS telah menjadi pemasok batu bara metalurgi ke Indonesia dengan volume 673 ribu ton pada kuartal I-2025, meningkat 112,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Meski tarif impor lebih rendah, tantangan regulasi dan Domestic Market Obligation (DMO) tetap ada. Indonesia mewajibkan minimal 25% produksi energi dijual domestik dengan harga tertentu, yang kadang membuat investor asing ragu untuk berinvestasi lebih jauh.
Selain itu, infrastruktur gas dan listrik yang belum merata antara wilayah barat dan timur menyebabkan pengiriman LNG dan hidrokarbon cair tidak selalu efisien.
Dengan populasi 283 juta jiwa dan kebutuhan listrik yang terus meningkat, permintaan energi impor Indonesia diperkirakan akan tetap tinggi dalam sepuluh tahun mendatang. Sektor industri seperti baja, petrokimia, dan kendaraan listrik diperkirakan akan menyerap lebih banyak gas dan listrik.
Kesepakatan tarif 19% ini memberikan peluang bagi AS untuk memperluas pasar energi di Indonesia, serta memberikan Indonesia opsi untuk diversifikasi sumber impor selain dari Timur Tengah dan Australia.
PANGKEP NEWS Indonesia Research