Jakarta, PANGKEP NEWS
Erick Thohir, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), memberikan peringatan kepada manajemen PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) untuk bersiap menghadapi ketidakpastian kondisi global.
‘Saya mengingatkan kembali kepada seluruh jajaran komisaris dan direksi Bank Mandiri untuk melakukan stress test guna mengantisipasi ketidakpastian kondisi global,’ ujarnya melalui media sosialnya, Kamis (8/5/2025).
Pesan ini disampaikan saat bertemu dengan Komisaris Utama Kuswiyoto, Wakil Komisaris Utama Zainudin Amali, Direktur Utama Darmawan Junaidi, serta jajaran direksi dan komisaris Bank Mandiri.
Dengan adanya UU BUMN, Erick menekankan bahwa Bank Mandiri sebagai bank pelat merah harus selalu menekankan profesionalitas dan inovasi berkelanjutan untuk menjaga daya saing di era pasar terbuka.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mendorong perbankan untuk menerapkan manajemen risiko yang kuat dan lebih aktif melaksanakan stress test dalam menghadapi situasi global dan domestik.
‘Stress test ini sekarang lebih rutin dilakukan oleh teman-teman perbankan, tentu dengan berbagai skenario dan menyiapkan mitigasi risiko yang lebih tepat,’ ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK secara virtual, Jumat (11/4/2025).
Selain itu, sesuai ketentuan OJK, bank juga diwajibkan membentuk tambahan modal di atas persyaratan penyediaan modal minimum sesuai profil risiko. Ini berfungsi sebagai pelindung atau buffer.
‘Apabila terjadi krisis keuangan dan ekonomi yang dapat mengganggu stabilitas sektor keuangan, tambahan modal ini dapat digunakan untuk mengantisipasi dampak volatilitas nilai tukar,’ jelas Dian.
Dian juga menyoroti eksposur bank terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. Menurutnya, risiko depresiasi rupiah kecil, terlihat dari posisi devisa neto (PDN) bank terhadap valuta asing (valas) hanya sebesar 1,55%, jauh dari batas maksimum 20%.
‘Volatilitas di perbankan ini relatif kecil hingga saat ini. Semoga akan terus demikian dan semakin kuat,’ kata Dian.
Lebih lanjut, Dian menyatakan bahwa dalam situasi global yang tidak menentu ini, Otoritas senantiasa berkomunikasi dan melakukan pengawasan ketat terhadap industri perbankan. Konsultasi dekat antara pihaknya dengan bank secara individu menjadi sangat penting.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan pertumbuhan kredit dua digit atau 10,3% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 7.825 triliun per Februari 2025.
Berdasarkan penggunaan, kredit investasi menjadi pendorong utama pertumbuhan, yakni 14,62% yoy. Kredit modal kerja dan kredit konsumsi masing-masing naik 7,66% yoy dan 10,31% yoy.
Dian mengatakan bahwa berdasarkan kepemilikan, bank pelat merah menjadi penggerak utama penyaluran kredit pada dua bulan pertama tahun ini. ‘Ditinjau dari kepemilikan, bank BUMN adalah pendorong utama, naik 10,93% yoy,’ katanya.
Sementara itu, bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), kembali menahan suku bunganya di level 4,25-4,50% bulan ini. Keputusan ini mencerminkan sikap The Fed yang berhati-hati dalam mengantisipasi dampak kebijakan tarif impor Presiden AS Donald Trump.
Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat kebijakan tarif impor besar-besaran Presiden Donald Trump, yang diumumkan pada 2 April 2025.
Dalam pernyataannya, The Fed mengakui adanya kenaikan risiko stabilitas harga dan ketenagakerjaan. Kondisi ini membuat bank sentral dalam posisi sulit dalam menentukan arah kebijakan berikutnya.
‘Ini bukan situasi di mana kami bisa bertindak secara pre-emptive, karena kami belum tahu apa respons yang tepat hingga melihat data lebih lanjut,’ kata Powell dalam konferensi pers usai rapat Federal Open Market Committee (FOMC), dikutip dari PANGKEP NEWS International.