Penurunan Drastis Harga Emas Hampir 3% Minggu Ini
Jakarta, PANGKEP NEWS – Harga emas mengalami penurunan signifikan pada transaksi terakhir minggu ini, serta sepanjang minggu ini, di tengah perbaikan sentimen pasar global yang berdampak negatif bagi emas.
Berdasarkan data dari Refinitiv, harga emas pada transaksi terakhir minggu ini, Jumat (27/6/2025), berhenti di angka US$ 3.272,99 per troy ons, turun 1,65%. Pelemahan ini memperpanjang tren penurunan emas yang dimulai sejak 13 Juni.
Dalam satu minggu terakhir saja, harga emas global turun 2,82%. Sejak perdagangan 13 Juni, emas terus mengalami penurunan dan hanya beberapa kali menunjukkan peningkatan, itupun hanya sedikit.
Perbaikan sentimen pasar global menjadi kabar buruk bagi emas, karena emas adalah aset safe haven yang biasanya dicari investor saat pasar dalam kondisi buruk.
“Pergeseran geopolitik memberikan kesempatan bagi investor untuk mengambil keuntungan, mengingat prospek perang kinetik dengan China dan perkembangan di Timur Tengah,” ujar Daniel Pavilonis, ahli strategi pasar senior di RJO Futures, menurut laporan dari Reuters.
Sentimen global yang membaik dipicu oleh gencatan senjata antara Israel dan Iran, meredanya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, serta menurunnya inflasi di AS.
Saat ini investor masih memperhatikan situasi di Timur Tengah seiring dengan berkurangnya ketegangan geopolitik. Gencatan senjata antara Iran dan Israel masih berlaku setelah beberapa bentrokan kecil di awal.
Sementara itu, kesepakatan perdagangan antara AS dan China terkait percepatan pengiriman logam tanah jarang ke AS dianggap positif oleh pasar, membuat emas semakin terpuruk.
Kesepakatan ini dicapai lebih awal sebelum tenggat 9 Juli, yang menandai akhir dari masa penangguhan 90 hari tarif “resiprokal” yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump.
Selain itu, Menteri Keuangan AS menyatakan bahwa kesepakatan dagang dengan 18 mitra dagang utama AS dapat selesai sebelum libur Hari Buruh pada 1 September.
Namun, yang paling dinantikan oleh investor adalah data inflasi konsumsi personal (Personal Consumption Expenditure/PCE), yang menurut laporan Departemen Perdagangan AS menunjukkan bahwa pendapatan dan pengeluaran konsumen secara mengejutkan mengalami penurunan 0,1% (month-to-month/mtm) pada Mei.
Walaupun tarif belum mempengaruhi pertumbuhan harga, inflasi PCE tetap di atas target tahunan 2% dari The Fed. Inflasi PCE (year-on-year/yoy) mencapai 2,3% sementara PCE inti berada di 1,7% (yoy) pada Mei 2025.
Laporan terpisah dari University of Michigan menunjukkan bahwa sentimen konsumen meningkat pada Juni menjadi 60,7 dari 52,2 pada Mei meskipun masih di bawah lonjakan pasca pemilu Desember.
Pasar keuangan sekarang memperkirakan peluang 76% bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan menurunkan suku bunga untuk pertama kalinya tahun ini pada September.
Sementara itu, proyeksi FedWatch dari CME menunjukkan kemungkinan pemangkasan suku bunga pada Juli hanya sebesar 19%.
“Pasar ini sangat tangguh. Investor menunggangi momentum dan mencari peluang breakout. Mereka tidak ingin terjebak di sisi yang salah. Banyak investor sudah ketinggalan. Dan sekarang S&P mulai menggoda dengan rekor tertingginya,” kata Chuck Carlson, CEO Horizon Investment Services di Hammond, Indiana, kepada Reuters.
Kondisi geopolitik dan ekonomi yang stabil mengurangi daya tarik emas sebagai aset perlindungan, mendorong investor beralih ke aset berisiko lebih tinggi, sementara suku bunga tinggi membuat emas kurang diminati karena tidak memberikan imbal hasil.
PANGKEP NEWS RESEARCH