Inspeksi Tambang di China Mengguncang Pasar, Harga Batu Bara Meroket
Jakarta, PANGKEP NEWS – Harga batu bara mengalami peningkatan setelah penurunan selama dua hari.
Berdasarkan data dari Refintiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa (22/7/2025) ditutup di level US$ 112,5 per ton, melonjak sebesar 2,32%. Kenaikan ini memutus tren negatif batu bara yang sebelumnya turun 2,7% dalam dua hari terakhir.
Peningkatan harga batu bara didukung oleh penguatan harga batu bara jenis kokas di China yang mencapai batas atas untuk hari kedua berturut-turut.
Peningkatan ini muncul di tengah spekulasi pasar mengenai kemungkinan inspeksi pemerintah di pusat-pusat produksi batubara utama yang dapat menyebabkan gangguan pasokan.
Kontrak coking coal paling aktif di Dalian Commodity Exchange melonjak hampir 8%, mencapai level tertinggi sejak 19 Maret, yaitu CNY 1.048,5 (sekitar US$146,19) per ton.
Batu bara kokas atau metallurgical coal, yang umumnya digunakan dalam produksi kokas untuk pembuatan baja, juga mengalami kenaikan harga hingga batas atas harian.
Peningkatan ini didorong oleh beredarnya dokumen yang diklaim berasal dari Administrasi Energi Nasional (NEA) yang menyarankan inspeksi di tambang batubara di delapan provinsi untuk memeriksa apakah produksi melebihi kapasitas yang diizinkan. Hal ini diungkapkan oleh Simon Wu, konsultan senior di Wood Mackenzie.
“Hal ini berpotensi mengurangi pasokan efektif ke pasar,” kata Wu, dikutip dari Reuters.
Reuters belum dapat memverifikasi keaslian dokumen yang beredar di media sosial dan dikaitkan dengan pemerintah provinsi Henan, yang konon memuat perintah inspeksi dari NEA.
Selain itu, harga juga mencapai batas atas harian pada hari Senin, didorong oleh ekspektasi peningkatan permintaan setelah pemerintah Beijing mengumumkan pembangunan bendungan tenaga air terbesar di dunia di Tibet.
Analis dari lembaga konsultasi Lange Steel memproyeksikan proyek besar ini akan menciptakan permintaan baja antara 3,5 juta hingga 6 juta ton.
Di sisi lain, Filipina, salah satu pasar listrik yang paling bergantung pada batu bara di dunia, telah meningkatkan impor LNG (gas alam cair) dan pembangkit listrik berbahan bakar gas dalam beberapa tahun terakhir.
Porsi pembangkit listrik berbahan bakar gas naik menjadi 17,5% pada paruh pertama 2025, meningkat dari 14% pada keseluruhan tahun 2024 dan dari rekor terendah 13,9% pada 2023.
Secara bersamaan, pangsa batu bara dalam bauran energi listrik Filipina menurun menjadi 57,2% pada Januari-Juni 2025, turun dari rekor tertinggi 61,9% sepanjang tahun 2024.
PANGKEP NEWS INDONESIA RESEARCH