Bumi Mengalami Pergeseran, Ahli: Posisi Sumbu Semakin Miring
Jakarta, PANGKEP NEWS – Kehilangan air tanah telah menyebabkan perubahan signifikan pada rotasi Bumi. Sebuah studi baru mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu dua tahun, antara 2000 dan 2002, lebih dari 1.600 gigaton air telah hilang dari daratan. Pergeseran ini menyebabkan sumbu rotasi Bumi bergeser sekitar 45 cm. Para ilmuwan mengidentifikasi redistribusi massa air sebagai penyebab utama dari fenomena ini.
Profesor Clark Wilson, seorang ahli geofisika dari University of Texas di Austin dan salah satu penulis studi ini, menyatakan bahwa pergerakan massa air dari daratan ke laut mengubah momen inersia Bumi. Akibatnya, sumbu rotasi planet ini mengalami pergeseran.
“Ketika Anda memindahkan sejumlah besar air dari daratan ke lautan, Anda sedang mendistribusikan ulang massa di seluruh planet,” ujar Wilson dikutip dari Science Focus, Minggu (1/6/2025).
“Hal itu akan mempengaruhi sumbu rotasi Bumi,” tambahnya.
Penelitian ini dipimpin oleh Prof Ki-Weon Seo dari Seoul National University, yang menggunakan kombinasi data radar satelit dan model kelembaban tanah untuk merekonstruksi perubahan dalam simpanan air global sejak akhir abad ke-20.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa antara 2000 dan 2002, terjadi penurunan kelembaban tanah yang signifikan, berkontribusi pada kenaikan permukaan laut global sekitar 1,95 mm per tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan kontribusi dari pencairan es di Greenland yang hanya sekitar 0,8 mm per tahun.
Tren pengeringan ini terus berlanjut. Dari 2003 hingga 2016, sekitar 1.000 gigaton air tanah kembali hilang. Hingga tahun 2021, tingkat kelembaban tanah belum kembali normal, menunjukkan adanya perubahan jangka panjang dalam penyimpanan air di daratan.
Pergeseran sumbu Bumi ini bertepatan dengan wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem, termasuk Asia Timur dan Tengah, Amerika Utara dan Selatan, serta Afrika Tengah.
Wilson menambahkan, meskipun pergeseran ini tampak kecil, pengukuran yang presisi sangat penting, bahkan mempengaruhi keakuratan sistem GPS di seluruh dunia. Oleh karena itu, pergerakan sumbu Bumi terus dipantau dengan ketelitian hingga milimeter.