Kim Jong Un Berang Kapal Perang Korut Tergelincir, Empat Orang Ditahan
Jakarta, PANGKEP NEWS – Empat orang di Korea Utara ditangkap karena dianggap bertanggung jawab atas insiden peluncuran kapal perang yang gagal minggu lalu, yang menyebabkan kapal tersebut tergelincir dan setengah tenggelam. Laporan ini disampaikan oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada Senin (25/5/2025).
Individu-individu yang ditahan termasuk Ri Hyong Son, wakil direktur departemen Industri Amunisi Komite Sentral Partai. Ia diduga melakukan kesalahan serius saat peluncuran.
Penahanan Ri melengkapi tiga orang lainnya yang sebelumnya sudah dijerat, yaitu Kang Jong Chol, kepala teknisi Galangan Kapal Chongjin, lokasi terjadinya insiden tersebut, Han Kyong Hak, kepala bengkel konstruksi lambung kapal, dan Kim Yong Hak, wakil manajer urusan administratif.
“Insiden ini disebabkan oleh kegagalan mekanisme peluncuran, yang mengakibatkan buritan kapal perusak berbobot 5.000 ton itu meluncur sebelum waktunya ke air, merusak bagian-bagian lambung dan membuat haluan terjebak di jalur kapal,” ungkap KCNA yang dikutip oleh PANGKEP NEWS.
Media pemerintah menyatakan pada hari Jumat bahwa kerusakan kapal perang itu lebih kecil dari yang awalnya diperkirakan oleh Korut. Pyongyang mengklaim tidak ada lubang di lambung kapal, meskipun terdapat goresan di sisi kanan. Laporan juga menyebutkan bahwa air laut masuk ke bagian buritan. Diperlukan waktu sekitar 10 hari untuk perbaikan, meskipun para analis meragukannya.
Kim telah memerintahkan agar kapal perusak tersebut diperbaiki sebelum sidang pleno Partai Pekerja yang akan digelar akhir Juni, dengan menyebutnya sebagai masalah kehormatan nasional.
Citra Satelit
Citra satelit menunjukkan sebagian besar kapal perang ditutupi terpal biru di lokasi peluncuran, membuat para ahli kesulitan menilai seberapa parah kerusakan yang terjadi.
Analis Carl Schuster, mantan kapten Angkatan Laut AS, menjelaskan bahwa perbaikan mungkin memakan waktu hingga enam bulan, jauh melebihi target Kim pada bulan Juni.
“Jika kerusakan lambung kapal meluas ke sisi kiri yang tertutup terpal, maka perbaikan bisa memakan waktu empat hingga enam bulan,” ujarnya.
“Perbaikan ini bisa rumit tergantung pada volume air laut yang masuk ke dalam kapal. Bagian dalam kapal harus dibilas dengan air tawar dan dikeringkan untuk mencegah terbentuknya kerak garam pada permukaan logam,” tambahnya.
“Jika air masuk ke sendi dan komponen lain, itu bisa menyebabkan kerusakan. Namun, proses pembilasan tidak bisa dimulai sampai kapal diluruskan dan lubang di lambung ditambal,” lanjut Schuster.
Citra satelit dari Maxar Technologies yang diambil hari Minggu dan diberikan kepada PANGKEP NEWS menunjukkan kapal tersebut masih dalam kondisi miring, dengan sebagian besar tertutup terpal biru saat perahu-perahu kecil mengelilinginya.
Anggota parlemen Korea Selatan dan analis pertahanan Yu Yong Weon menyatakan minggu lalu bahwa peluncuran kapal yang terlalu cepat mungkin menjadi penyebab masalah ini. Dia juga menambahkan bahwa perbaikan yang dilakukan dengan tergesa-gesa dapat menimbulkan masalah lebih besar di kemudian hari.