Tantangan Fiskal Tetap Berat, Harapan pada IHSG dan Rupiah
Jakarta – Pada penutupan perdagangan kemarin, pasar keuangan Indonesia menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan sementara nilai tukar rupiah menguat. Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan tetap bergejolak di tengah banyaknya sentimen negatif. Namun, terdapat kabar baik dengan adanya sejumlah perusahaan yang mulai memesan saham dalam penawaran umum perdana (IPO).
Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup turun 0,18% atau 12,32 poin ke level 6.915,36. Pergerakan IHSG cukup dinamis, dengan indeks yang sempat menguat di awal perdagangan mengikuti jejak Wall Street dan kinerja positif bursa Asia. Dari total saham yang diperdagangkan, 245 saham mengalami kenaikan, 356 menurun, sementara 191 tidak mengalami perubahan. Nilai transaksi cenderung sepi, hanya mencapai Rp 11,39 triliun dengan volume 17,17 miliar saham dalam 1,11 juta transaksi. Investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 695,74 miliar.
Sebagian besar sektor perdagangan mengalami penurunan, terutama sektor finansial, konsumer primer, dan industri. Sebaliknya, sektor bahan baku mencatatkan penguatan terbesar. Emiten perbankan dan saham blue chip menjadi penekan utama IHSG, dengan Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), dan Astra International (ASII) sebagai kontributor utama.
Di pasar valuta asing, rupiah menguat terhadap dolar AS, ditutup pada Rp16.185/US$, naik 0,28% dibanding penutupan sebelumnya. Penguatan ini sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang turun 0,18% ke level 96,69. Dolar AS mengalami pelemahan tipis akibat ketidakpastian di Senat AS terkait rencana fiskal Presiden Donald Trump dan kritik terhadap Federal Reserve yang menimbulkan kekhawatiran atas independensi bank sentral.
Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik melaporkan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2025 sebesar US$4,30 miliar, mendorong penguatan rupiah. Namun, data Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur Indonesia menunjukkan kontraksi lanjutan pada Juni di level 46,9, menjadi kontraksi ketiga dalam tiga bulan berturut-turut.
Di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun ke 6,59% dari 6,64% pada perdagangan sebelumnya, menunjukkan penguatan harga SBN yang diminati investor.
Dari Wall Street, bursa saham AS ditutup bervariasi dengan Dow Jones Industrial Average naik 400,17 poin atau 0,91% menjadi 44.494,94. Investor mulai beralih dari saham teknologi ke sektor kesehatan, dengan saham Amgen dan UnitedHealth melonjak lebih dari 4%.
Pergerakan pasar keuangan Indonesia hari ini akan dipengaruhi oleh berbagai sentimen, baik domestik maupun internasional. Dari dalam negeri, sentimen akan datang dari data inflasi, neraca perdagangan hingga realisasi APBN. Kehadiran IPO besar juga diharapkan memberikan sentimen positif.
Inflasi Juni 2025
Badan Pusat Statistik melaporkan inflasi 0,19% pada Juni 2025. Secara tahunan, inflasi mencapai 1,87% year on year (yoy), dengan inflasi inti diperkirakan stagnan di 2,41%. Hal ini berbanding terbalik dengan proyeksi banyak analis yang memperkirakan deflasi.
Neraca Dagang Kembali Surplus
Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2025 tercatat sebesar US$4,30 miliar, didorong oleh komoditas nonmigas. Ekspor mencapai US$24,61 miliar dan impor US$20,31 miliar.
Update Asumsi Makro 2025
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan asumsi dasar ekonomi makro 2025 dengan target pertumbuhan ekonomi 5,2%, namun proyeksi tahunan dikoreksi ke 4,7%-5,0%. Inflasi diproyeksikan pada kisaran 2,2%-2,6%, nilai tukar rupiah di Rp16.300-Rp16.800 per dolar AS, dan imbal hasil SBN sekitar 7%.
Kondisi Terkini APBN 2025
Sri Mulyani melaporkan pendapatan negara semester I-2025 mencapai Rp1.201 triliun dengan perkiraan Rp2.865,5 triliun hingga akhir tahun, atau 95,4% dari target. Belanja negara diperkirakan mencapai Rp3.527,5 triliun atau 97,4% dari target.
Awal Juli: Manufaktur RI Rontok
Aktivitas manufaktur Indonesia mengalami kontraksi tajam pada Juni 2025 dengan PMI di 46,9. Penurunan pesanan baru menjadi faktor utama, mempengaruhi output dan ketenagakerjaan.
Parade IPO Jumbo Siap Dimulai
Pada Juli 2025, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menyambut delapan emiten yang akan melaksanakan IPO pada tanggal 8, 9, dan 10 Juli. IPO ini diharapkan dapat menggairahkan pasar saham Indonesia.