Krisis Terkini Melanda Gaza Setelah Serangan Intensif Israel
Jakarta – Sebuah krisis baru mengancam Gaza setelah serangan terus-menerus oleh Israel sejak Oktober 2023. Menurut laporan dari Klasifikasi Keamanan Pangan Terpadu (IPC), setengah juta penduduk Gaza menghadapi ancaman kelaparan serius.
Hampir seluruh populasi Gaza, yaitu sekitar 2,1 juta orang, diperkirakan akan mengalami tingkat kerawanan pangan yang akut pada akhir September mendatang, dengan 469.500 di antaranya diproyeksikan mencapai tingkat “bencana”.
Israel telah memblokade Jalur Gaza sejak awal Maret. Negara tersebut melanjutkan operasi militernya untuk memerangi kelompok militan Hamas setelah kegagalan kesepakatan gencatan senjata.
Juru bicara pemerintah Israel, David Mencer, menyebutkan bahwa laporan terbaru IPC tidak dapat diandalkan. Ia menyatakan kelaparan tidak pernah terjadi karena upaya Israel dalam memberikan bantuan lebih banyak.
Mencer juga menuduh Hamas mencuri bantuan yang diperuntukkan bagi warga sipil dan menuding mereka merekayasa krisis kemanusiaan. Sementara itu, Hamas membantah tuduhan tersebut dan balik menuduh Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang. IPC menyatakan ancaman kelaparan besar di Gaza terkait dengan rencana Israel untuk melancarkan operasi militer skala besar di wilayah tersebut.
Selain itu, IPC menilai bahwa organisasi bantuan mengalami kesulitan dalam mendistribusikan barang dan layanan penting secara berkesinambungan ke Gaza, yang memicu prediksi kelaparan kritis di wilayah tersebut dari 11 Mei hingga 30 September 2025.
Presiden Israel, Isaac Herzog, pada Senin (12/5), menyerukan bantuan internasional melalui rencana baru untuk menyalurkan bantuan langsung kepada warga Gaza dan mengecualikan Hamas dari proses tersebut.
Laporan IPC menyebutkan bahwa rencana otoritas Israel untuk menyalurkan bantuan dinilai tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk akan makanan, air, tempat tinggal, dan obat-obatan.
“Tindakan segera sangat penting untuk mencegah kematian lebih lanjut, kelaparan, dan kekurangan gizi akut serta jatuhnya ke dalam bencana kelaparan,” demikian bunyi laporan itu.
Menurut IPC, suatu wilayah dianggap mengalami bencana kelaparan jika setidaknya 20% dari penduduk mengalami kekurangan pangan yang ekstrem, 1 dari 3 anak mengalami kekurangan gizi akut, dan 2 dari 10.000 orang meninggal setiap hari akibat kelaparan atau kekurangan gizi dan penyakit.
Laporan tersebut memperkirakan hampir 71.000 kasus kekurangan gizi akut, termasuk 14.100 kasus parah pada anak-anak berusia 6 hingga 59 bulan, diperkirakan akan terjadi antara April 2025 dan Maret 2026.
Laporan IPC disusun dengan kontribusi dari badan-badan PBB, LSM, dan organisasi lainnya.
“Laporan ini benar-benar menunjukkan bahwa situasi di Gaza telah memburuk secara drastis dalam beberapa bulan terakhir,” ujar Beth Bechdol, wakil direktur Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).
“Sejak 2 Maret, blokade yang menyeluruh telah mencegah pengiriman pasokan kemanusiaan dan bahkan komersial yang penting,” katanya.
“Kita dapat berasumsi bahwa angka-angka yang kita lihat dalam laporan ini hanya akan terus meningkat,” tambahnya.
Dia mencatat bahwa gencatan senjata selama dua bulan telah mengurangi krisis pangan akut dan malnutrisi. Namun, IPC menyebutkan bahwa blokade yang sedang berlangsung telah memperburuk situasi.
Temuan utama menunjukkan bahwa 1,95 juta orang, atau 93% dari populasi di daerah kantong pesisir, hidup dalam kondisi kerawanan pangan akut yang tinggi. Di antaranya, 244.000 orang mengalami tingkat paling parah, atau “bencana”.
Analisis IPC pada bulan Oktober lalu menyebutkan bahwa 133.000 orang berada dalam kategori “bencana”. Di Kota Gaza, Ghada Mohammad, seorang ibu dari lima anak, mengatakan ia harus membayar sekitar 1.000 shekel (US$281) untuk membeli sekarung tepung seberat 2 kg.
Sebelum perang dan selama masa gencatan senjata, harganya ‘hanya’ 25 shekel pada bulan Januari dan Februari.
Berbicara melalui aplikasi pesan, ia mengungkapkan ketergantungan pada makanan kaleng, air yang tidak sehat, dan roti yang dibuat dengan tepung yang penuh serangga.
“Tahukah Anda bagaimana rasanya tidak bisa makan satu kali pun dengan ayam atau sayuran atau daging selama beberapa minggu?” tanyanya.