Jakarta – Indonesia Bergabung dengan BRICS dan OECD
Indonesia baru saja resmi menjadi bagian dari kelompok negara berkembang BRICS sejak Januari lalu, bergabung dengan negara lain seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Langkah ini menempatkan BRICS dalam sorotan global, dengan banyak yang melihatnya sebagai penyeimbang bagi kekuatan G7.
Selain BRICS, Indonesia juga sedang dalam proses untuk menjadi anggota The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Saat ini, proses aksesi Indonesia ke OECD sedang berlangsung.
Edy Priyono, yang menjabat sebagai PLT Deputi Kepala Staf Kepresidenan Bidang Ekonomi dan Pangan, menjelaskan bahwa keputusan Indonesia untuk bergabung dengan berbagai kelompok multilateral adalah bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas jaringan kerjasama internasional.
“Banyak yang bertanya-tanya, kita sudah di G20 tapi mengapa kita masuk ke BRICS. Kini terbukti bahwa ini adalah langkah strategis, memperluas kerjasama dengan negara-negara lain. Semakin banyak teman, semakin baik,” kata Edy dalam acara PANGKEP NEWS Economic Update pada Selasa (8/6/2025).
Kunci dari strategi ini, menurut Edy, terletak pada kemampuan diplomasi yang mengedepankan prinsip saling menguntungkan. Presiden Prabowo Subianto selalu membawa tim ekonomi dalam berbagai pertemuan bilateral sebagai bukti pentingnya aspek ekonomi tersebut.
Manfaat bagi Indonesia
Salah satu contoh terbaru adalah kerjasama dengan Singapura. Beberapa pekan lalu, Presiden Prabowo Subianto menghadiri pertemuan bilateral di Singapura, di mana Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, menawarkan alih teknologi di bidang pertanian modern, urban farming, dan praktik pasca panen yang berkelanjutan.
“Mungkin sekilas kita merasa aneh, mengapa dari Singapura kita mendapatkan dukungan untuk pertanian. Kita mendapatkan dukungan dalam teknologi, bukan teknis pertanian yang sudah kita kuasai,” ujar Edy.
Singapura, meskipun bukan negara agraris, memiliki keunggulan dalam teknologi yang lebih maju yang dapat dimanfaatkan oleh Indonesia. Keterbukaan terhadap berbagai bentuk kerjasama menjadi faktor penting dalam strategi ini.
“Teknologinya di sana mungkin lebih maju, jadi kita bisa belajar dari semua pihak. Jika ada yang bersedia membantu, mengapa tidak, kita terbuka untuk itu,” tambahnya.