Jakarta –
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan rencana Indonesia untuk memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pada 2030 atau 2032 yang akan segera dilaporkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto.
Rencana ini disampaikan karena energi nuklir nantinya akan menjadi bagian dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang saat ini sedang dalam tahap finalisasi.
“Untuk PLTN, kita mulai aktif pada 2030 atau 2032. Jadi, kita harus mempersiapkan semua regulasi yang terkait dengan PLTN,” jelasnya dalam pernyataan resmi yang diterbitkan Kamis (24/4/2025).
Bahlil, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Energi Nasional (DEN), menjelaskan bahwa PLTN adalah sumber energi baru yang ekonomis dan dapat diandalkan untuk memperkuat sistem kelistrikan nasional.
Ia juga menambahkan bahwa penggunaan nuklir akan mengurangi ketergantungan pada energi listrik berbahan bakar fosil. Namun, ia menekankan pentingnya sosialisasi yang masif kepada masyarakat agar memahami manfaat penggunaan nuklir sebagai sumber listrik.
Lalu, negara mana yang tertarik berinvestasi di PLTN Indonesia?
Dalam kesempatan terpisah, Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyatakan bahwa terdapat peluang kerja sama antara Indonesia dan Inggris dalam pengembangan PLTN.
Hal ini dibahas dalam pertemuan antara Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, Utusan Khusus Presiden Hashim Djojohadikusumo, dan Pimpinan MPR RI di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta pada Selasa (22/4/2025).
Eddy menyebutkan bahwa Hashim mengungkapkan rencana Pemerintah Indonesia untuk membangun pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan (EBT) selama 15 tahun ke depan, dengan energi nuklir sebagai bagian dari rencana tersebut.
“Dalam pertemuan itu, Pak Tony Blair menyampaikan bahwa di Inggris telah dikembangkan teknologi untuk membangun pembangkit nuklir modular, yang berkapasitas kecil 300-500 MW, yang cocok untuk negara kepulauan seperti Indonesia,” ujar Eddy saat ditemui di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Selasa (22/4/2025).
Untuk merealisasikan kerja sama pengembangan PLTN di Indonesia, Eddy mengungkapkan bahwa Pemerintah Indonesia akan menunggu presentasi dari perusahaan energi asal Inggris untuk mendapatkan lebih banyak informasi tentang adopsi teknologi nuklir di Indonesia.
Walaupun demikian, lokasi pembangunan PLTN hasil kerja sama dengan Inggris belum dipastikan. Namun, Bangka Belitung dan Kalimantan Barat tengah dipertimbangkan sebagai lokasi pembangunan PLTN di Indonesia.
“Satu di Kalimantan Barat dan satu lagi di Bangka Belitung. Namun, kepastiannya akan kita lihat nanti karena RUPTL 2025-2034 masih dalam proses penyelesaian. Dalam RUPTL tersebut, ada rencana pengembangan satu Giga Watt energi nuklir. Ini bisa menjadi awal dari penggunaan energi nuklir kita,” tambahnya.