Rosan dan Chatib Basri Ungkap Kebutuhan Dana untuk Pertumbuhan Ekonomi RI 8%
Jakarta, PANGKEP NEWS – Menteri Investasi Indonesia dan Kepala BKPM, Rosan Roeslani, bersama Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Chatib Basri, memaparkan sejumlah strategi yang diperlukan Indonesia agar bisa mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8%. Hal ini diutarakan dalam acara Indonesia-Japan Executive Dialogue 2025 di Jakarta, Rabu (6/8/2025).
Dalam pertemuan tersebut, Rosan, yang juga menjabat sebagai CEO Danantara, menjelaskan bahwa Indonesia membutuhkan investasi sekitar Rp 13.000 triliun untuk mencapai target tersebut pada tahun 2029. Oleh karena itu, ia berharap ada tambahan dana investasi, terutama dari para pengusaha Jepang, yang selama ini merupakan investor terbesar di Indonesia.
“Dalam rentang waktu 5 tahun, dari 2025 hingga 2029, kita memerlukan tepatnya Rp 13.032 triliun untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% di tahun 2029,” ungkapnya.
Untuk itu, ia mengaku pihaknya sedang bekerja menyelesaikan berbagai kendala yang menghambat iklim investasi. Menurutnya, masalah-masalah ini sudah teridentifikasi, dan pihaknya berkomitmen untuk menyelesaikannya dengan adanya dukungan politik yang kuat.
“Di bawah pemerintahan Pak Presiden Prabowo, kami berjanji untuk menyelesaikan permasalahan investasi terkait iklim dan kepastian,” katanya.
Sejalan dengan itu, Chatib juga menyampaikan hal yang sama. Menurut perhitungannya, Indonesia memerlukan Rp 12 ribu triliun, atau tambahan Rp 3 ribu triliun, dari tahap saat ini untuk benar-benar mencapai target pertumbuhan 8%.
“Karena itu, investasi akan menjadi faktor yang sangat penting dalam mengejar pertumbuhan pada level ini,” tegasnya.
Chatib, yang juga pernah menjabat sebagai Kepala BKPM, mengatakan bahwa sejauh ini ada tiga hambatan utama bagi investor yang ingin menanamkan modal di Indonesia. Pertama adalah iklim investasi, dan kedua adalah hambatan birokrasi.
“Namun pada bulan April lalu, Pak Prabowo telah menegaskan dalam sarasehan ekonomi bahwa pemerintah akan membuat deregulasi ekonomi, salah satunya adalah pengaturan kuota impor,” jelasnya.
Lebih lanjut, Chatib juga menyampaikan kepada para pengusaha Jepang bahwa dengan perubahan demografi Indonesia menuju urbanisasi yang besar, ada beberapa sektor bisnis yang dapat dipertimbangkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat urban.
“Ada infrastruktur dan real estate, kesehatan dan pendidikan, energi dan utilitas, barang konsumen, logistik dan transportasi, serta jasa keuangan,” tuturnya.