Jakarta –
Harga emas sepanjang minggu ini berhasil menembus level US$ 3.300 per troy ons, menandai rekor tertinggi baru sepanjang masa.
Selama pekan ini, perdagangan berlangsung empat hari saja, karena pada hari Jumat ada libur memperingati Good Friday.
Menurut data Refinitiv, pada hari Kamis (17/4/2025), harga emas sedikit turun 0,47% ditutup pada US$ 3.327,54 per troy ons.
Sehari sebelumnya, harga emas dunia ini melonjak 3,58% mencapai rekor tertinggi di US$ 3.344,22 per troy ons.
Kenaikan 3,58% ini merupakan yang tertinggi sejak 17 Maret 2023 yaitu 3,59%, ketika itu emas melonjak setelah krisis perbankan di AS menutup tiga bank.
Secara mingguan, harga emas dunia naik 2,82% dan menandai dua minggu berturut-turut di zona positif.
David Morrison, analis senior pasar di Trade Nation, menggambarkan pergerakan harga emas minggu ini, termasuk lonjakan US$100 pada hari Rabu, sebagai pola “blowoff top”, yang merujuk pada lonjakan tajam sebelum koreksi besar.
“Emas telah naik 13% atau US$360 hanya dalam waktu satu minggu. Maka, investor tidak perlu terkejut jika harga mengalami koreksi. Emas juga terlihat sangat overbought, dengan indikator MACD harian mencapai level yang terakhir terlihat pada April 2011, tepat sebelum puncak harga sebelumnya. Ini tidak berarti harga tak bisa naik lebih jauh, tetapi pembeli perlu berhati-hati pada level saat ini,” katanya.
Ketahanan emas terjadi ketika dolar AS diperkirakan akan mengakhiri pekan ini di titik terendah tiga tahun, yaitu 99,49 poin.
Christopher Vecchio, Kepala Divisi Futures & Forex di Tastylive.com, mengatakan emas akan terus mendapat keuntungan dari pelemahan dolar AS. Walaupun dolar belum akan kehilangan status sebagai mata uang cadangan dunia dalam waktu dekat, Vecchio menyatakan bahwa kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump yang tidak stabil telah melemahkan posisi Amerika di pasar global.
“Kita mundur dari era Pax Americana menuju Amerika First, yang hadir dengan seperangkat aturan yang sangat berbeda. Tidak ada mata uang lain yang bisa menggantikan posisi dolar sebagai mata uang cadangan, jadi kita semacam ‘terjebak’ dengan dolar, tetapi kita akan membutuhkan sesuatu yang lain. Dan sesuatu itu adalah emas,” katanya.
Vecchio mengatakan dia masih melihat setiap penurunan harga emas sebagai peluang untuk membeli. Namun, tantangan bagi investor dalam jangka pendek adalah menentukan di mana seharusnya harga emas berada di tengah momentum luar biasa ini.
Analis mata uang dari Brown Brothers Harriman juga memperkirakan pelemahan dolar AS akan berlanjut. Ini akan terus mendukung reli emas yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Kami terus percaya bahwa sebagian besar pelemahan dolar baru-baru ini disebabkan oleh hilangnya kepercayaan terhadap para pembuat kebijakan AS serta dampak negatif dari ketidakpastian kebijakan terhadap ekonomi AS. Oleh karena itu, kami memperkirakan dolar akan terus melemah dan melihat setiap pemulihan dolar sebagai rapuh, tak peduli bagaimana data ekonomi AS muncul,” kata Win Thin, Kepala Strategi Mata Uang Global.
Analis riset senior di FXTM, Lukman Otunuga, mencatat bahwa reli emas di atas US$3.350/troy ons telah mendorong harga naik 28% sepanjang tahun ini, bahkan melampaui reli tahun lalu sebesar 24%.
“Emas terus bersinar karena kekhawatiran resesi global dengan ketegangan dagang AS-China menarik investor menuju pelukan aman logam mulia,” katanya.
“Namun, dengan harga yang sangat overbought, koreksi teknikal bisa segera terjadi sebelum emas kembali naik. Tergantung pada seberapa besar koreksinya, harga bisa turun ke US$3.250 atau US$3.140, dengan level psikologis US$3.000 sebagai support signifikan. Jika US$3.300 terbukti menjadi support yang andal, harga bisa menuju level psikologis berikutnya di US$3.400 dan lebih tinggi,” ujarnya lagi.
PANGKEP NEWS RESEARCH