Bukan Hanya untuk Kopi, Sumber Daya Indonesia Ini Bisa Jadi Alternatif BBM
Jakarta, PANGKEP NEWS – Sumber daya ini ternyata memiliki potensi untuk diolah menjadi bahan bakar kendaraan yang lebih ramah lingkungan, menjadikannya alternatif bagi bahan bakar minyak (BBM).
Sumber daya yang dimaksud adalah aren. Aren, yang saat ini populer di industri kopi sebagai pemanis alami yang dianggap lebih sehat dari gula pasir, ternyata juga memiliki peran penting dalam industri energi.
Aren memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku bioenergi, terutama bioetanol. Bioetanol adalah sumber Bahan Bakar Nabati (BBN) yang dapat membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak fosil seperti bensin.
CEO Pertamina New and Renewable Energy (PNRE) John Anis menyatakan bahwa Indonesia memiliki lahan aren seluas 2 juta hektare yang dapat dikembangkan sebagai bahan baku bioetanol.
“Kami telah bekerja sama dengan Kementerian Perhutanan untuk menyiapkan lahan ini, yang menurut mereka ada sekitar 2 juta hektare tersebar di seluruh Indonesia. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk aren,” ujarnya dalam acara Coffee Morning PANGKEP NEWS di Jakarta, Jumat (16/5/2025).
“Yang menarik, berdasarkan data statistik yang kami terima, hasil bioetanol per hektare per tahun dari aren ini bisa 4 sampai 5 kali lebih besar dibandingkan tanaman lain seperti gula atau jagung,” tambah John.
Menurut data dari Kementerian Pertanian, Indonesia memiliki lahan tanaman aren yang tersebar di berbagai wilayah, mencakup Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Nira dari Tanaman Aren
Sesuai informasi dari situs resmi pertanian.go.id, produk yang paling dikenal dari tanaman aren adalah gula aren. Gula ini berasal dari nira yang disadap dari bunga jantan maupun betina, meskipun bunga betina jarang disadap oleh petani.
Pada tahun 2023, produksi gula aren nasional diperkirakan mencapai 350.000 ton per tahun, sebagian besar dihasilkan oleh petani kecil. Selain gula, nira aren juga digunakan sebagai bahan untuk minuman tradisional seperti tuak, sirup, dan minuman kesehatan berbasis herbal.
Pemrosesan produk aren membuka lebih banyak peluang komersial bagi tanaman ini, sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi bagi petani dan masyarakat. Aren tidak hanya penting dalam industri makanan, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai sumber energi alternatif. Nira aren dapat difermentasi untuk menghasilkan bioetanol, yang merupakan bentuk energi terbarukan.
Penelitian dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menunjukkan bahwa produktivitas bioetanol dari aren dapat mencapai 20.000 liter per hektare setiap tahun, menjadikannya lebih efisien dibandingkan bahan baku lain seperti jagung atau singkong. Selain keunggulan produktivitas, bioetanol dari aren juga menghasilkan emisi karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil, sehingga lebih ramah lingkungan.
Pemanfaatan aren dalam industri bioenergi dapat mempercepat diversifikasi energi di Indonesia, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Ini juga mendukung target pemerintah untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan menjadi 23% dari total konsumsi energi nasional pada tahun 2025.
Namun, sayangnya, produksi nira aren di Indonesia masih sangat terbatas.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi nira aren di Indonesia mencapai 17,33 ton pada tahun 2022 dan menurun menjadi hanya 1,1 ton pada tahun 2023. Penurunan produksi ini menjadi berita buruk di tengah meningkatnya permintaan.
Provinsi dengan produksi nira aren terbesar adalah Sumatera, Jawa, dan Sulawesi, yang menyumbang bagian terbesar dari total produksi nasional. Keberhasilan produksi nira aren di beberapa provinsi ini disebabkan oleh kondisi geografis dan iklim yang mendukung pertumbuhan optimal pohon aren.