Jepang Pertahankan Stabilitas Suku Bunga di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Jakarta, PANGKEP NEWS Indonesia – Jepang kembali menahan napas. Untuk kedua kalinya secara berturut-turut, Bank of Japan (BOJ) memilih untuk tidak mengubah suku bunga acuan, tetap di level 0,5%, di tengah meningkatnya ketidakpastian perdagangan global. Faktor utama yang mempengaruhi keputusan ini adalah ‘Efek Trump’ yang kembali mengancam pasar ekspor negara ini.
Menurut laporan dari PANGKEP NEWS International, keputusan ini sesuai dengan ekspektasi pasar, sebagaimana tercermin dalam jajak pendapat ekonom Reuters. Namun, di balik keputusan yang terlihat stabil ini, tersimpan kekhawatiran tentang prospek pertumbuhan dan inflasi Jepang di masa depan.
BOJ dalam pernyataannya menyebutkan bahwa ada kemungkinan untuk mengetatkan suku bunga “jika proyeksi ekonomi dan inflasi dapat dipastikan.” Namun, narasi yang lebih dalam menunjukkan adanya potensi moderasi pertumbuhan akibat melemahnya ekonomi global dan penurunan laba perusahaan domestik. Ini berarti, jalan menuju normalisasi suku bunga masih panjang dan penuh tantangan.
Inflasi Stabil Tapi Ancaman Tarif Mengintai
Inflasi inti Jepang telah bertahan di atas target 2% selama 36 bulan terakhir, memberikan dasar bagi BOJ untuk perlahan mengakhiri era suku bunga negatif. Namun, kebijakan tarif balasan dari Presiden AS Donald Trump mengganggu rencana tersebut.
BOJ memperkirakan inflasi akan berada di kisaran 2-2,5% pada tahun fiskal 2025 (berakhir Maret 2026), kemudian menurun ke 1,5-2% pada tahun fiskal berikutnya. Target jangka menengah menunjukkan inflasi akan mendekati 2% pada 2027.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Jepang masih rapuh. Data menunjukkan bahwa ekonomi hanya tumbuh 0,1% sepanjang 2024, menurun tajam dibandingkan 1,5% pada 2023. Pertumbuhan kuartal IV hanya 1,2% secara tahunan, menunjukkan bahwa konsumsi dan ekspor belum sepenuhnya pulih.
Yen Menguat, Pasar Cemas
Setelah pengumuman kebijakan, indeks Nikkei 225 meningkat 0,54% sementara Topix naik 0,23%. Namun yen melemah 0,29% menjadi ¥143,49 per dolar AS. Hal ini mencerminkan kekhawatiran investor terkait prospek ekspor Jepang yang bisa tertekan oleh tarif Trump yang agresif: 10% untuk barang umum, dan 25% khusus otomotif.
Trump bahkan sempat menyinggung Jepang pekan lalu, dengan mengatakan bahwa Tokyo “selalu berusaha” agar yen tetap lemah. Padahal sejak Jepang keluar dari suku bunga negatif pada Maret 2024, yen telah menguat hampir 5% terhadap dolar AS, dan lebih dari 8% sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2025.
Pernyataan terbaru dari Menteri Keuangan Jepang Katsunobu Kato membantah laporan harian Yomiuri yang menyebut Menkeu AS Scott Bessent menginginkan dolar lemah dan yen kuat. “Tidak pernah ada pembicaraan seperti itu,” tulis Kato di platform X.
Arah BOJ, Naik atau Bertahan?
Meski BOJ menyatakan akan tetap bersikap hawkish, beberapa analis menilai bahwa urgensi untuk menaikkan suku bunga berikutnya semakin tipis. Citi Research dalam catatan risetnya menyebut bahwa ekspor Jepang dapat terpukul lebih dalam dari sisi global, khususnya akibat melemahnya permintaan dari AS dan China. “BOJ kemungkinan akan bergeser menjadi lebih dovish jika data ekspor mulai turun dan belanja konsumen AS melemah,” tulis Citi.
Nomura juga menyatakan bahwa BOJ akan tetap waspada, namun tidak terburu-buru dalam menaikkan suku bunga berikutnya. Citi memperkirakan kenaikan berikutnya bisa terjadi paling cepat Maret 2026, jika ekonomi masih memberi ruang.
PANGKEP NEWS Indonesia Research