Pelantikan Terbesar Sepanjang Masa, Kementerian Ini Sahkan 71 Ribu PPPK
Jakarta – Pada hari ini, Menteri Agama Nasaruddin Umar melantik sebanyak 71.336 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Tahap I Formasi 2024 di Kementerian Agama, Senin (26/5/2025). Jumlah ini merupakan yang terbesar dalam sejarah Kementerian Agama (Kemenag).
PPPK ini berasal dari berbagai satuan kerja Kemenag di seluruh Indonesia, baik pusat maupun daerah. Tingkat kelulusan PPPK Kementerian Agama Formasi 2024 mencapai 99,92% dari total 89.781 formasi yang ditetapkan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
Menteri Nasaruddin Umar menyampaikan selamat kepada seluruh PPPK yang baru saja dilantik dan disumpah. Ia menekankan agar PPPK dapat menjadi ASN yang berkepribadian bersih, berperilaku dan berkomunikasi baik, serta bijak dalam bermedia sosial, sehingga bisa menjadi teladan bagi masyarakat.
“Sebagai bagian dari Kementerian Agama, PPPK harus memahami dan mengimplementasikan Trilogi Kerukunan Umat Beragama. Tiga aspek yang ditekankan adalah: cinta kepada Tuhan, cinta sesama manusia, dan cinta kepada alam,” ujarnya.
Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Purwadi Arianto, dalam sambutannya, menyatakan bahwa ASN saat ini harus adaptif terhadap perubahan, responsif terhadap kebutuhan masyarakat, serta berkomitmen pada etika dan integritas.
“Birokrasi bukan tentang siapa kita, tetapi tentang apa yang kita tinggalkan melalui pelayanan,” katanya.
Menurutnya, ASN di lingkungan Kemenag memiliki peran yang luas. Selain memperkuat birokrasi, mereka juga diharapkan menjaga nilai-nilai kebangsaan, kerukunan beragama, dan moderasi dalam kehidupan sosial.
Tidak hanya seremonial, pelantikan PPPK di Kemenag juga disertai aksi peduli lingkungan. Para PPPK terlantik diwajibkan menanam satu pohon di lingkungan kerja, satuan pendidikan keagamaan, atau rumah ibadah.
Purwadi menyambut baik simbolisasi penanaman pohon ini. Menurutnya, langkah kecil ini merefleksikan prinsip penting bahwa pelayanan tidak hanya menyentuh manusia, tetapi juga menjaga alam.
“Inilah yang disebut ekoteologi, harmoni antara pengabdian spiritual dan tanggung jawab ekologis,” jelasnya.