Jakarta, PANGKEP NEWS Indonesia
Matcha, bubuk teh hijau yang dihasilkan dari daun tencha Jepang, telah meraih popularitas global, terutama di kalangan milenial dan Gen Z. Permintaan global terhadap matcha mengalami peningkatan pesat, didorong oleh tren kesehatan, kafe premium, dan makanan fungsional.
Matcha menjadi tren, mulai dari kafe di kawasan SCBD hingga meningkatnya permintaan di Australia. Misalnya, Kafe Moon & Back di Sydney menjual lebih dari 20.000 cangkir matcha per tahun, melebihi penjualan kopi. Namun, popularitas ini menekan rantai pasokan.
Menurut Global Japanese Tea Association, permintaan matcha yang melonjak telah menyebabkan kekurangan stok untuk pertama kalinya dalam sejarah modern.
Sejalan dengan itu, FAO Food Outlook 2024 memperingatkan bahwa harga teh global melonjak sekitar 15% di atas rata-rata jangka panjang. Teh, bersama dengan kakao dan kopi, menjadi penyumbang terbesar peningkatan biaya impor pangan dunia yang mencapai US$2 triliun.
Apa penyebabnya? Cuaca ekstrem, gangguan logistik, dan booming wisata ke Jepang pascapandemi, di mana wisatawan membeli matcha sebagai suvenir. Harga daun tencha di lelang Kyoto bahkan melonjak dua kali lipat menjadi lebih dari ¥8.000/kg, tertinggi dalam sejarah.
Meningkatkan pasokan matcha tidaklah mudah. Profesor Daniel Tan, seorang ahli agronomi dari University of Sydney, menjelaskan bahwa matcha berkualitas tinggi hanya dipanen setahun sekali melalui proses yang rumit, termasuk pembayangan tanaman selama tiga minggu, pengukusan daun dalam 10 detik, dan penggilingan batu yang hanya menghasilkan 40 gram per jam.
Cuaca buruk seperti embun beku mengurangi produksi hingga 30% di beberapa daerah di Jepang, membuat skala produksi tidak bisa sekadar ditingkatkan.
Ketidakstabilan ini juga mengguncang industri teh secara lebih luas. Menurut FAO, negara seperti Sri Lanka yang bergantung pada ekspor teh untuk menutupi impor pangan kini tertekan oleh volatilitas harga. Di pasar premium, merek terkenal seperti Ippodo Tea harus membatasi pembelian satu produk per orang, sementara distributor di Australia mulai mencari pemasok baru untuk memenuhi permintaan kafe.
Ironisnya, tren minuman berbasis teh semakin didorong oleh perang diskon di China. Perusahaan e-commerce besar seperti Alibaba dan Meituan menawarkan kupon untuk bubble tea guna merebut pasar ‘instant retail’.
Meskipun ini meningkatkan penjualan sementara, banyak analis memperingatkan risiko gelembung konsumsi yang rapuh. Diskon untuk milk tea tidak akan menyelamatkan ekonomi jika fondasi pasokan teh terus terganggu oleh cuaca dan permintaan yang tidak terkendali.
Kapan krisis matcha ini akan berakhir? Pemerintah Kyoto mengakui kesulitan memenuhi permintaan ekspor yang sudah melampaui target 15.000 ton per tahun hingga 2030.
Ini berarti, kelangkaan mungkin menjadi ‘normal baru’, memaksa konsumen membayar lebih mahal atau beralih ke teh hijau alternatif dari China atau Taiwan, yang kualitasnya sering diperdebatkan di kalangan pecinta matcha sejati.
Saat ini, Jepang masih menjadi produsen matcha terbesar di dunia, baik dari segi volume produksi, kualitas, maupun ekspor global. Berikut adalah daftar negara dan wilayah yang berperan penting dalam produksi matcha dunia.
PANGKEP NEWS Indonesia Research