Jakarta, PANGKEP NEWS – IHSG Melemah di Tengah Tekanan Saham Teknologi
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan pada sesi pertama perdagangan hari ini, Selasa (26/5/2025).
IHSG merosot 0,8% atau 57,6 poin ke level 7.156,56, meninggalkan level 7.200. Tercatat 215 saham melemah, 396 saham menguat, dan 189 lainnya stagnan.
Transaksi siang ini cukup ramai, mencapai Rp 9,07 triliun dengan volume 22,98 miliar saham dalam 928.167 transaksi.
Sektor bahan baku mencatat penurunan terdalam sebesar 1,64%, diikuti oleh sektor teknologi dan utilitas yang masing-masing turun 1,39%.
Beberapa saham menjadi penekan utama IHSG, termasuk DCII yang anjlok 6,27% dan menyumbang pelemahan 12,5 poin indeks.
Saham Chandra Asri (TPIA) milik Prajogo Pengestu turun 5% dan memangkas 11,82 poin indeks.
BBRI dan BMRI juga memberikan tekanan pada IHSG, masing-masing berkontribusi pada pelemahan 10,7 dan 8,8 poin indeks.
Saham GOTO jatuh 5,56% ke level 68, memberikan kontribusi penurunan 8,66 poin indeks. Sebelumnya, GOTO sempat turun tajam ke Rp 65 per saham, mengurangi 17,32 poin indeks pada perdagangan sesi pertama.
Spekulasi merger GOTO dengan Grab sempat mengangkat saham tersebut, namun pernyataan dari Tirza Munusamy, Chief of Public Affairs Grab Indonesia, menepis rumor tersebut sebagai informasi yang tidak terverifikasi.
Manajemen GOTO menyatakan menerima berbagai penawaran dari pihak lain, yang bersifat rahasia dan masih dalam tahap awal.
Saham DCII juga menjadi faktor tekanan, anjlok 7,77% dan berkontribusi negatif 15,17 poin indeks. DCII merupakan saham termahal di Bursa Efek Indonesia, telah naik lebih dari 200% tahun ini, dari level 46.000-an ke 140.000-an, bahkan sempat menembus 200.000-an per saham.
Pekan ini, pasar keuangan Indonesia hanya buka tiga hari karena libur cuti bersama untuk peringatan Kenaikan Yesus Kristus. Investor diharapkan berpikir cermat dalam pengambilan keputusan.
Optimisme pelaku pasar dipacu oleh potensi penurunan suku bunga dan perbaikan defisit transaksi berjalan. Langkah efisiensi BUMN melalui M&A juga dinilai memberikan prospek cerah bagi korporasi.
Laporan terbaru dari JP Morgan pada 19 Mei 2025 memberikan stimulus positif dengan menaikkan peringkat saham pasar berkembang, termasuk Indonesia.
Peningkatan peringkat dari underweight ke netral dan kemudian ke overweight menunjukkan lima alasan pasar emerging market lebih menarik: meredanya ketidakpastian perang dagang, melemahnya dolar AS, pemulihan ekonomi China, valuasi yang murah, dan proyeksi penurunan suku bunga The Fed.
Penilaian positif ini menjadi kabar baik saat IHSG memasuki pekan terakhir Mei, meski potensi koreksi ke 6.900-7.000 tetap ada jika gagal menembus MA200.
Namun, ketidakpastian global meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyarankan tarif 50% terhadap Uni Eropa, mengeluhkan kebuntuan negosiasi perdagangan. Kebijakan ini akan berlaku mulai 1 Juni, menambah tantangan bagi investor.