Jakarta, PANGKEP NEWS
India dan Pakistan telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata sehubungan dengan ketegangan yang terjadi di Kashmir pada hari Minggu. Namun demikian, kesepakatan ini masih menghadapi potensi pelanggaran.
Penting untuk dicatat bahwa gencatan senjata ini dicapai dengan mediasi dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada hari Sabtu. Trump menyatakan bahwa ia melakukan diskusi intensif melalui malam hari dengan AS sebagai perantara.
“Saya akan berusaha untuk bekerja sama dengan Anda berdua demi mencari solusi terkait Kashmir,” ujar Trump dalam sebuah posting di platform Truth Social, seperti dikutip dari Reuters, Senin (12/5/2025).
Namun, pada Minggu pagi, Menteri Luar Negeri India menyatakan telah membalas “pelanggaran berulang” Pakistan terhadap gencatan senjata. Beberapa penduduk desa di Kashmir bagian India melaporkan bahwa penembakan dari Pakistan terus berlangsung beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata.
Rumah milik Bairi Ram di desa Kotmaira rusak parah akibat penembakan, dengan tiga kerbau miliknya tewas.
Di sisi lain, Kashmir yang dikelola Pakistan juga mengabarkan adanya “baku tembak sesekali”, meskipun menyatakan situasi “tenang” sejak pagi. Meskipun demikian, penduduk mulai kembali ke rumah mereka, meski ada yang masih khawatir bahwa gencatan senjata ini tidak akan bertahan lama.
“Setiap kali India menyetujui perjanjian semacam ini, Pakistan akhirnya melanggarnya,” kata Hafiz Mohammad Shah Bukhari, seorang penduduk Kashmir India, kepada AFP.
“India adalah tetangga yang manipulatif. Anda tidak bisa mempercayainya. Saya sama sekali tidak percaya pada India; saya yakin India akan menyerang lagi,” ungkap Kalla Khan, seorang penduduk Kashmir Pakistan.
Sementara itu, analis senior di International Crisis Group, Praveen Donthi, merasa skeptis. Ia menyatakan situasi akan tetap tegang.
“Keadaan akan tetap sulit,” ujarnya.
Sebelumnya, kedua negara mengalami pertempuran sengit selama empat hari pekan lalu, yang merupakan pertempuran terburuk dalam hampir tiga dekade. India dan Pakistan saling menembakkan rudal dan pesawat nirawak ke instalasi militer masing-masing, menewaskan hampir 70 orang.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemimpin dunia, mengingat kedua negara ini memiliki senjata nuklir.
Pertempuran itu terjadi setelah serangan terhadap wisatawan di Kashmir yang dikelola India pada 22 April, menewaskan 26 orang, dengan India menuduh Pakistan mendukung serangan tersebut. Pakistan dengan tegas membantah keterlibatan dan menyerukan penyelidikan independen.
Militan telah meningkatkan operasi di Kashmir sejak 2019, setelah pemerintah nasionalis Hindu di bawah Perdana Menteri Narendra Modi mencabut otonomi terbatas wilayah itu dan membawanya di bawah kendali langsung dari New Delhi. Kashmir yang mayoritas Muslim diklaim sepenuhnya oleh kedua negara, yang telah berperang beberapa kali di wilayah itu sejak kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1947.