Akhir dari Konflik Rusia-Ukraina di Depan Mata, Zelensky Siap Bertemu Putin
Jakarta, PANGKEP NEWS – Potensi berakhirnya konflik antara Rusia dan Ukraina semakin nyata. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyatakan kesediaannya untuk bertemu langsung dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Turki pada hari Minggu.
Langkah ini dilakukan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa dialog langsung diperlukan untuk melihat apakah perdamaian bisa tercapai. Zelensky sendiri mengusulkan gencatan senjata selama 30 hari.
“Kami menantikan gencatan senjata penuh yang dimulai besok, sebagai landasan penting bagi diplomasi,” kata Zelensky dalam sebuah unggahan di X, mengutip AFP, Senin (12/5/2025).
“Tidak ada manfaat dari memperpanjang pertumpahan darah. Saya akan berada di Turki menunggu Putin pada hari Kamis. Secara pribadi. Saya berharap kali ini Rusia tidak akan mencari alasan,” tambahnya.
Pernyataan Zelensky ini mengikuti pengumuman Putin pada hari Minggu, yang menyarankan untuk melanjutkan negosiasi yang sempat terhenti di Istanbul pada Maret 2022. Namun, ia tidak memberikan tanggapan terhadap usulan gencatan senjata 30 hari dari sekutu Kyiv.
“Kami menyarankan kepada otoritas Kyiv untuk melanjutkan perundingan yang mereka hentikan pada 2022, dan, saya tegaskan, tanpa prasyarat apapun,” ujarnya.
“Kami mengusulkan untuk memulai kembali perundingan pada Kamis, 15 Mei, di Istanbul,” kata Putin.
“Kami tidak menutup kemungkinan bahwa selama negosiasi ini, kita dapat menyepakati beberapa gencatan senjata baru,” tambahnya.
Sebelumnya, di akun media sosial Truth Social miliknya, Trump menyebutkan bahwa “Presiden Putin dari Rusia tidak ingin menandatangani Perjanjian Gencatan Senjata dengan Ukraina, tetapi ingin bertemu pada hari Kamis, di Turki”. Ia menambahkan bahwa ini dilakukan “untuk merundingkan kemungkinan mengakhiri PERTUMBUHAN BERDARAH”.
“Ukraina harus menyetujui ini, SEGERA,” ujar Trump lagi.
“Paling tidak, mereka akan dapat menentukan apakah kesepakatan itu mungkin atau tidak, dan jika tidak, para pemimpin Eropa, dan AS, akan tahu posisi mereka, dan dapat melanjutkan sebagaimana mestinya!” tegasnya.
Sementara itu, Kyiv dan sekutu Eropa menegaskan bahwa gencatan senjata tanpa syarat untuk menghentikan pertempuran adalah satu-satunya cara untuk mendorong solusi diplomatik bagi konflik tiga tahun ini, yang terburuk di Eropa sejak Perang Dunia Kedua. Serangan Rusia telah menyebabkan kematian puluhan ribu orang, menghancurkan kota-kota di Ukraina, dan memutus hubungan antara Moskow dan Barat.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menyatakan kepada Putin melalui panggilan telepon pada hari Minggu bahwa Turki siap menjadi tuan rumah perundingan “yang bertujuan untuk mencapai solusi yang langgeng”. Konflik antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung sejak 2022 ketika Kyiv menyatakan minatnya untuk bergabung dengan NATO.