Hebat! Pertamina Tingkatkan Kesejahteraan 408 Petani di Desa Uma Palak
Jakarta, PANGKEP NEWS – Ancaman kekeringan menjadi perhatian serius dalam menjaga ketahanan pangan di Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah di Indonesia mengalami curah hujan yang lebih rendah dari normal selama musim kemarau 2023. Hal ini mengakibatkan 27 ribu hektar lahan padi terdampak kekeringan, dan 2.269 lahan padi mengalami gagal panen.
I Made Darayasa, seorang petani di Desa Uma Palak Lestari, Munduk Uma Palak, Kelurahan Peguyangan, Denpasar Utara, Bali, mengatakan, “Subak di desa kami terancam kekurangan air saat kemarau. Akibatnya, produksi padi berkurang, bahkan bisa mengalami gagal panen,” katanya pada Senin (12/5/2025).
Subak adalah sistem irigasi tradisional yang digunakan di persawahan Bali, dikelola secara adat oleh masyarakat setempat. Tidak tinggal diam, warga desa berusaha mencari solusi.
“Kami bekerja sama dengan Aviation Fuel Terminal (AFT) Ngurah Rai Pertamina Patra Niaga untuk mempelajari dan menerapkan teknologi dalam mengatasi tantangan produksi pertanian. Dengan inovasi sistem pengairan Suplai Energi Manajemen Irigasi Uma Palak atau SIUMA dari tim Pertamina, kami berhasil memperbaiki irigasi di lahan padi,” jelas I Made Darayasa.
SIUMA menggunakan sensor kelembaban tanah berbasis IoT yang langsung terhubung ke grup WhatsApp petani, memungkinkan pengambilan keputusan irigasi secara langsung.
Ditambah dengan dukungan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 21 kWp dan mikrohidro, operasi sistem pengairan menjadi lebih hemat biaya. Sistem mikrohidro ini memanfaatkan limbah non-B3, berupa gulungan selang yang tidak terpakai dari mobil distribusi avtur AFT Pertamina Ngurah Rai.
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso menyatakan, Desa Uma Palak merupakan bagian dari program Desa Energi Berdikari (DEB) yang dicanangkan Pertamina bersama masyarakat.
Fadjar mengungkapkan bahwa saat ini ada 172 DEB di seluruh Indonesia. Sebanyak 31 DEB berfokus pada ketahanan pangan, termasuk program Desa Uma Palak Lestari.
“Penggunaan energi terbarukan di DEB Uma Palak Lestari juga berhasil mengurangi emisi karbon sebesar 27,3 ton CO₂ ekuivalen per tahun,” ungkap Fadjar.
Sebanyak 408 petani, termasuk 24 petani perempuan, telah merasakan manfaat dari transformasi ini. Dari akses energi terbarukan, pelatihan pertanian organik, hingga peningkatan peluang ekonomi melalui wisata dan produk hasil pertanian.
I Gede Sudi Arcana, Lurah Peguyangan, menyatakan bahwa program ini membawa dampak positif. Inovasi teknologi ini mampu mengurangi biaya operasional hingga Rp 700 ribu per bulan. DEB Uma Palak juga meningkatkan produksi padi organik 2,3 kali lipat – dari 5,1 ton/ha menjadi 7,5 ton/ha. Lima hektare sawah padi organik kini dikelola secara berkelanjutan, menghasilkan omzet Rp 476 juta per tahun.
Ia menambahkan bahwa warga juga menggunakan traktor listrik untuk mengolah sawah, sehingga bisa menghemat biaya operasional dari sebelumnya Rp 25 ribu per are menjadi Rp 15 ribu per are.
DEB Uma Palak terus berkembang dan kini menjadi kawasan ekowisata edukatif. Dilengkapi dengan ruang terbuka hijau, jalur lari, area kafe, dan tempat berkemah, menarik 72 ribu kunjungan wisatawan per tahun. Ini menambah pendapatan warga sebesar Rp 64 juta per tahun.
Program DEB adalah bukti nyata komitmen Pertamina dalam mendukung transisi energi dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), khususnya TPB 2 (Tanpa Kelaparan), TPB 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), dan TPB 13 (Penanganan Perubahan Iklim).