Belajar di Pusat Pendidikan Bersejarah Indonesia
Jakarta, PANGKEP NEWS – Kisah dunia pendidikan di Indonesia tak pernah habis. Negara ini telah mencatatkan masa kejayaan dalam pendidikan global dan menjadi contoh bagi banyak bangsa di seluruh dunia. Kejayaan ini berlangsung ribuan tahun yang lalu, tepatnya antara abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi, ketika Sriwijaya berdiri di Sumatera.
Sriwijaya adalah sebuah kerajaan bercorak Buddha yang muncul pada abad ke-7 M sebagai hasil dari pesatnya perdagangan di wilayah Sumatera. Selama ini, banyak yang mengetahui bahwa kejayaan Sriwijaya didukung oleh kekuatan politik dan perdagangan. Namun, ada satu pilar lain yang turut mendukung kejayaan Sriwijaya, yaitu pengetahuan.
Sejarawan M.D. Poesponegoro dan N. Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno (2010) menyebutkan, kejayaan ilmu pengetahuan menjadikan Sriwijaya terkenal sebagai pusat pembelajaran agama Buddha di dunia. Para umat Buddha dari berbagai belahan dunia rela melakukan perjalanan jauh untuk belajar di perguruan-perguruan Buddha yang ada di Sriwijaya.
Pada masa sekarang, perguruan tersebut setara dengan universitas atau kampus.
Salah satu mahasiswa terkenal yang datang ke Sriwijaya adalah seorang penjelajah dan biksu dari China bernama I-Tsing. Pada tahun 671 M, I-Tsing tiba di Sriwijaya dan menetap selama enam bulan untuk mempelajari bahasa Sansekerta.
Selama berada di Sriwijaya, I-Tsing tidak sendirian. Dia melihat ribuan biksu dari berbagai penjuru dunia berkumpul untuk menimba ilmu. Banyak tokoh Buddha juga hadir di sana.
John Miksic dalam tulisannya “Archaeological Evidence for Esoteric Buddhism in Sumatra, 7th to 13th Century” (2016) mengisahkan bahwa reputasi tinggi pendidikan Sriwijaya tidak terlepas dari kualitas para biksunya. Banyak dari mereka pernah belajar langsung di Nalanda, pusat pembelajaran Buddha di India.
Namun, karena proses belajar di Nalanda sangat ketat, banyak biksu yang terlebih dahulu belajar kepada para guru yang telah lulus dari sana. Sriwijaya pun menjadi tempat persiapan ideal bagi calon pelajar Nalanda. Terlebih, materi ajar di perguruan Buddha Sriwijaya setara dengan yang diajarkan di Nalanda.
Tidak hanya para biksu biasa, Sriwijaya juga pernah dikunjungi oleh tokoh Buddha dan salah satu guru besar, yaitu Atisha Dipankara. Atisha berasal dari Kekaisaran Pala di India. Demi memperdalam pemahaman terhadap ajaran Buddha, Atisha menempuh perjalanan panjang ke Sumatera pada tahun 1013.
Setibanya di Sriwijaya, Atisha belajar langsung kepada salah satu guru agama Buddha ternama, yaitu Dharmakitri. Dia menetap di Swarnadwipa selama lebih dari 13 tahun. Setelah itu, Atisha kembali ke India dan menyebarkan ilmu yang diperoleh dari Sriwijaya.
Eksistensi Sriwijaya sendiri berakhir pada abad ke-13 akibat ketidakstabilan politik internal serta serangan dari Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Colamanda. Dengan demikian, keruntuhan Sriwijaya juga mengakhiri eksistensi perguruan-perguruan tersebut yang tidak berlebihan jika disebut sebagai kampus tertua di Nusantara. Semua kisah ini membuktikan bahwa Indonesia pernah menjadi mercusuar peradaban dunia.