Jakarta –
Curah hujan lebat dan angin kencang diperkirakan akan terus melanda sejumlah wilayah di Indonesia selama seminggu ke depan, dari tanggal 11 hingga 17 Juli 2025. Berdasarkan pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga akhir Juni 2025, baru sekitar 30% dari zona musim (ZOM) di Indonesia yang telah memasuki musim kemarau.
Ini berarti sebagian besar ZOM di Indonesia masih berada dalam masa transisi dengan curah hujan yang tinggi. Secara lebih spesifik, wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua masih menunjukkan potensi curah hujan yang tinggi.
“Cuaca ekstrem yang melanda berbagai wilayah Indonesia saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor atmosfer dan laut yang saling mendukung. Kombinasi dinamika atmosfer inilah yang menyebabkan potensi cuaca ekstrem masih akan terjadi dalam seminggu ke depan,” demikian pernyataan resmi BMKG yang dikutip pada Sabtu (12/7/2025).
Indonesia, sebagai negara kepulauan yang dikelilingi oleh samudra luas dan memiliki curah hujan yang tinggi, menyimpan kekayaan sumber daya air yang melimpah.
Diperkirakan ada sekitar 70.000 sungai di Indonesia yang kemudian dibagi menjadi 42.210 daerah aliran sungai (DAS).
Sungai-sungai ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari irigasi hingga pembangkit listrik.
Salah satu indikator penting dalam mengukur potensi air sungai adalah tinggi aliran (debit curah hujan) yang dapat menjadi tolak ukur besarnya daya dukung terhadap lingkungan sekitar.
Beberapa sungai di Indonesia tercatat memiliki tinggi aliran di atas 3.000 mm, menjadikannya sebagai tumpuan kehidupan, irigasi, dan potensi energi air yang besar.
Tinggi aliran (mm) adalah tebal aliran rata-rata dalam satu tahun di dalam daerah aliran sungai.
Di puncak daftar, Sungai Progo yang mengalir di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menorehkan angka mencolok dengan tinggi aliran mencapai 26.256 mm di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang. Debit air ini tidak hanya menunjukkan tingginya curah hujan, tetapi juga pentingnya kawasan ini dalam suplai air dan potensi mitigasi banjir.
Selanjutnya, Sungai Paguyaman yang melewati Kabupaten Gorontalo, tepatnya di Desa Diloato, Kecamatan Paguyaman, dengan tinggi aliran 14.007 mm, menjadi sumber daya air yang vital bagi pertanian dan pemukiman lokal.
Sementara itu, Sungai Kapuas, yang dikenal sebagai salah satu sungai terpanjang di Indonesia, menunjukkan kehadirannya secara dominan dengan banyak titik pemantauan di atas 3.000 mm.
Sungai-sungai dengan tinggi aliran di atas 3.000 mm ini bukan hanya sekadar catatan statistik, melainkan refleksi dari kekayaan air yang perlu dijaga. Di tengah ancaman perubahan iklim dan alih fungsi lahan yang masif, menjaga ekosistem sungai berarti menjaga keberlanjutan kehidupan. Melalui pengelolaan air yang bijak, konservasi daerah tangkapan air, serta partisipasi aktif masyarakat, aliran yang deras dapat tetap memberi manfaat tanpa membawa bencana.
Dengan memahami potensi dan tantangan dari sungai-sungai ini, kita semua diajak untuk menghargai air bukan hanya sebagai kebutuhan, tapi juga sebagai warisan alam yang tak ternilai.
PANGKEP NEWS RESEARCH