Sejarah Kerajaan Nusantara dan Hijrah Nabi Muhammad
Jakarta, PANGKEP NEWS – Pada masa Nabi Muhammad SAW, terdapat beberapa kerajaan di Nusantara yang berdiri dan berkembang. Penguasa-penguasa di Nusantara ini hidup sejajar dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW yang menjadi tonggak awal penanggalan Islam.
Menurut informasi dari Kementerian Agama, Maulid atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW jatuh pada hari Senin di bulan Rabiul Awwal, tahun 571 Masehi. Beliau wafat pada usia 63 tahun, sekitar tahun 634 Masehi.
Salah satu momen penting dalam kehidupan Nabi adalah ketika beliau hijrah ke Madinah.
Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah pada tanggal 1 Muharam 1 Hijriah, bertepatan dengan 16 Juli 622 Masehi. Peristiwa ini menjadi dasar penanggalan kalender Hijriah.
Keputusan untuk hijrah diambil Nabi Muhammad SAW setelah menghadapi tekanan dari kaum Quraisy yang merasa ajaran Islam mengancam tatanan sosial, ekonomi, dan agama mereka.
Kondisi di Mekah tidak lagi kondusif untuk menjalankan ibadah dan menyebarkan Islam.
Penguasa Nusantara di Zaman Nabi dan Saat Hijrah
Menilik sejarah Nusantara atau cikal bakal Indonesia, era Nabi Muhammad bertepatan dengan sejumlah kerajaan di Nusantara, seperti Kutai dan Kalingga.
Kerajaan Kutai, yang terletak di Sungai Muara Kaman, Kalimantan Timur, berdiri sekitar tahun 400 Masehi. Kerajaan ini merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia dan menjadi cikal bakal kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha. Bukti keberadaan Kerajaan Kutai adalah prasasti Yupa, yang ditulis dalam bahasa Sanskerta dengan huruf Pallawa.

Foto: Kemdikbud
Prasasti Yupa
Salah satu kerajaan tertua adalah Kerajaan Kutai Martapura di Kalimantan Timur, yang diperkirakan berdiri pada abad ke-4 Masehi. Keberadaannya diketahui melalui prasasti Yupa yang mencatat sistem pemerintahan kuat dan pengaruh budaya Hindu-India.
Di sisi barat Nusantara, Kerajaan Tarumanegara berkembang sebagai salah satu kerajaan awal di Pulau Jawa. Keberadaannya dibuktikan dengan prasasti seperti Prasasti Ciaruteun dan Prasasti Tugu, yang mengungkapkan peran raja dalam pembangunan irigasi dan penguatan pemerintahan.
Menurut Agus Aris Munandar dalam buku Indonesia dalam Arus Sejarah 2: Kerajaan Hindu-Buddha (2011), kerajaan ini mengalami puncak perkembangan pada abad ke-5 hingga ke-7 Masehi, dengan jejak kekuasaan yang dapat dilihat dari peninggalan prasasti dan catatan sejarah.
Kerajaan Tarumanegara berkuasa dari 358 Masehi hingga 669 Masehi.
Periode ini bersinggungan dengan hijrah Nabi Muhammad SAW.
Ayatrohaedi dalam Sundakala: Cuplikan Sejarah Sunda Berdasarkan Naskah-naskah Panitia Wangsakerta (2005) menjelaskan bahwa pusat pemerintahan awal Tarumanegara berada di Jayasinghapura, kawasan perbukitan di barat Bogor yang kini berbatasan dengan Banten.
Di Jawa Tengah, ada Kerajaan Kalingga yang menjalin hubungan dagang dengan India dan China. Kerajaan ini berdiri sekitar 594 Masehi hingga 695 Masehi, juga bersamaan dengan periode hijrah Nabi Muhammad SAW.
Catatan sejarah Tiongkok menyebut kerajaan ini sebagai “Holing” dan menggambarkan sistem pemerintahan yang dipimpin ratu bernama Shima.
Meski puncaknya baru terjadi beberapa abad kemudian, Kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan mulai tumbuh sebagai kekuatan maritim yang mengendalikan perdagangan di Selat Malaka pada periode ini.
Kerajaan-kerajaan ini menunjukkan bahwa Nusantara sudah memiliki peradaban mapan meskipun pengaruh Islam belum hadir pada masa itu.
Kerajaan Sriwijaya berdiri sekitar 682 Masehi hingga 1.377 Masehi.
Islam Masuk ke Indonesia
Islam mulai masuk ke Nusantara sekitar abad ke-13 melalui pedagang dan ulama dari Timur Tengah dan India. Beberapa di antara mereka diyakini sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, dikenal sebagai Sayyid atau Habib. Mereka memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Indonesia dan sering memiliki hubungan dengan kerajaan lokal.
Misalnya, di Jambi, pemimpin Hadrami yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW berperan signifikan dalam proses Islamisasi.
Mereka tidak hanya menyebarkan ajaran Islam tetapi juga berpartisipasi dalam struktur pemerintahan dan masyarakat setempat. Peran mereka dalam pendidikan dan kepemimpinan agama membantu memperkuat pengaruh Islam di wilayah tersebut.
Keterlibatan keturunan Nabi Muhammad SAW di kerajaan Nusantara tidak terbatas pada Jambi.
Di wilayah lain, seperti Kalimantan Barat, manuskrip yang beredar menunjukkan nilai-nilai keagamaan yang diajarkan oleh ulama keturunan Nabi, yang membantu masyarakat melawan kekerasan atas nama agama dan mempromosikan perdamaian.
Pada akhirnya, meskipun pada masa hidup Nabi Muhammad SAW, Nusantara belum terjangkau Islam, kerajaan yang ada telah membangun fondasi peradaban yang memungkinkan Islam berkembang pesat ketika diperkenalkan.
Peran keturunan Nabi dalam penyebaran Islam tidak hanya dalam dakwah tetapi juga berkontribusi dalam pemerintahan dan budaya kerajaan di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa hubungan antara Islam dan kerajaan Nusantara telah ada sejak awal Islamisasi dan berlanjut hingga kini.
PANGKEP NEWS RESEARCH