Pedagang Beras Dilarikan ke Rumah Sakit Setelah Memarahi Orang Terkaya di Indonesia
Jakarta, PANGKEP NEWS – Sultan Hamengkubuwana IX terkenal sebagai figur yang humanis dan merakyat. Meski sebagai penguasa Jawa, ada kisah menarik bahwa ia pernah disangka sebagai “orang biasa” dan diminta untuk mengangkut beras.
Di tahun 1946, dalam buku ‘Takhta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengkubuwono IX’, disebutkan bahwa Sri Sultan pernah membeli es gerobakan di pinggir jalan depan Stasiun Klender, Jakarta. Cuaca saat itu sangat terik, dan Sultan butuh minuman dingin. Meski bisa saja pergi ke restoran, ia lebih memilih minum es di pinggir jalan karena lebih dekat.
Suatu ketika, Sri Sultan juga pernah menjadi sopir truk pengangkut beras. Kisah ini dimulai ketika ia mengendarai truk Land Rover dari daerah pedesaan menuju kota.
Di perjalanan, ia dihentikan oleh seorang perempuan penjual beras yang ingin tumpangan ke pasar. Tanpa ragu, perempuan itu meminta sopir untuk membantunya mengangkut beras ke dalam truk.
Tanpa menyadari bahwa yang menjadi sopir adalah Raja Jawa, Sri Sultan langsung membantu mengangkat dua karung besar ke dalam truk.
Dalam autobiografi Pranoto Reksosamodra, ‘Catatan Jenderal Pranoto Reksosamodra (2015)’, dikisahkan bahwa sepanjang perjalanan, penjual beras dan Sri Sultan berbincang tanpa mengetahui dengan siapa sebenarnya dia berbicara.
Setibanya di pasar, Sri Sultan bertindak seperti sopir pada umumnya, dengan menurunkan karung beras tersebut. Penjual beras kemudian memberi upah, namun dengan sopan Sri Sultan menolaknya dan mengembalikan uang tersebut.
Penjual beras merasa tersinggung dan marah, berpikir sopir tersebut menolak karena jumlah uangnya yang kecil. Sri Sultan pun meninggalkan tempat itu, sementara penjual beras merasa sopir tersebut sombong.
Setelah itu, ada orang yang memberitahu penjual beras bahwa sopir yang dimarahinya adalah Sultan Hamengkubuwana IX.
Setelah mendengar kabar tersebut, penjual beras terkejut dan pingsan hingga harus dibawa ke rumah sakit. Ketika kabar ini sampai di telinga Sri Sultan, ia langsung mengunjungi penjual beras tersebut di rumah sakit.
Sebagai catatan, Sultan Hamengkubuwana IX menjadi Raja Yogyakarta sejak 1940. Ia menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia berkat warisan dan sistem feodalisme kerajaan. Meski kaya raya, ia dikenal hidup sederhana tanpa memamerkan kekayaannya.
Kekayaan pastinya tidak diketahui, namun dalam sejarah ia dikenal sebagai sosok dermawan yang sering berbagi. Misalnya, pada awal kemerdekaan, ia menyumbangkan 6,5 juta gulden kepada pemerintah dan 5 juta gulden untuk rakyat yang menderita, setara dengan Rp20-30 miliar saat ini.