Jakarta, PANGKEP NEWS
Setidaknya 38 orang dinyatakan meninggal dunia dan 28 lainnya mengalami luka-luka setelah sebuah bus bertabrakan dengan sebuah minibus dan kemudian terbakar di kawasan Kilimanjaro, Tanzania. Peristiwa tragis ini berlangsung pada Sabtu malam di daerah Sabasaba.
Kecelakaan maut ini bermula ketika ban bus mengalami pecah. Pengemudi bus yang kehilangan kendali tidak dapat menghindari tabrakan dengan minibus yang bergerak dari arah berlawanan. Akibat tabrakan tersebut, percikan api muncul dengan cepat dan membakar kedua kendaraan, menjebak penumpang di dalamnya.
Pernyataan resmi dari kepresidenan mengkonfirmasi bahwa jumlah korban jiwa mencapai 38 orang, termasuk dua wanita. Banyak korban tewas yang sulit diidentifikasi karena luka bakar yang parah.
Identitas dan kewarganegaraan para korban belum dapat dipastikan, menambah kesulitan dalam upaya identifikasi dan penanganan pasca-kecelakaan. Selain korban tewas, 28 orang lainnya mengalami cedera, dengan enam di antaranya masih mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.
“Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban. Kami juga berharap agar para korban yang terluka segera pulih,” ujar Presiden Tanzania, Samia Suluhu Hassan. “Kami juga menyerukan penerapan aturan keselamatan jalan yang lebih ketat. Kecelakaan lalu lintas yang mematikan sering terjadi di jalan-jalan Tanzania, menjadi perhatian serius bagi pemerintah,” tambahnya.
Tragedi ini kembali menyoroti masalah keamanan jalan yang kronis di Tanzania. Meskipun berbagai kampanye keselamatan jalan telah digalakkan oleh pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, angka kecelakaan yang tinggi masih menjadi ancaman yang terus menghantui negara ini.
Laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2018 menunjukkan perkiraan yang mengkhawatirkan, dengan antara 13.000 hingga 19.000 orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di Tanzania pada tahun 2016. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan data resmi pemerintah yang mencatat 3.256 kematian pada tahun yang sama. Perbedaan signifikan ini menunjukkan bahwa skala masalah mungkin lebih besar dari yang diakui secara resmi.
Pemerintah Tanzania terus berusaha mengurangi jumlah kecelakaan dan korban jiwa di jalan raya. Namun, insiden seperti yang terjadi di Kilimanjaro ini menjadi pengingat yang menyedihkan akan tantangan besar yang masih harus dihadapi untuk menjamin keselamatan bagi semua pengguna jalan.