Cuaca Panas Tak Tertahankan, Warga Asing di Jakarta Serbu Penjual Es
Jakarta, PANGKEP NEWS Indonesia – Dalam menghadapi cuaca panas yang seolah tak berujung, tiada yang lebih menyegarkan selain ditemani sesuatu yang dingin. Baik dengan meneguk minuman segar atau sekadar berada di ruangan ber-AC. Namun, bagaimana jika seseorang tidak dapat menikmati keduanya?
Bagi sebagian orang, hal itu akan menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan. Mereka akan merasa gerah dan tidak nyaman. Itulah yang dialami oleh banyak warga asing di Jakarta pada masa lalu. Terbiasa dengan iklim dingin, mereka mengalami penurunan kualitas hidup ketika harus berada di Jakarta yang panas.
Untuk mengatasi hal ini, banyak dari mereka yang berbondong-bondong membeli es batu. Namun, mendapatkan es batu pada masa itu bukanlah hal yang mudah. Di sekitar tahun 1800-an, teknologi seperti kulkas atau lemari pendingin belum ada di Hindia Belanda. Tidak ada satu pun orang yang memiliki alat tersebut.
Satu-satunya cara untuk memperolehnya adalah dengan mengimpor dari luar negeri. Es batu sebagai barang dagangan dan komoditas impor di Hindia Belanda dipelopori oleh Etienne Chaulan, putra seorang koki di hotel ternama Batavia (kini Jakarta), yaitu Hotel de Provence.
Etienne menjadi importir es batu guna memenuhi kebutuhan Hotel de Provence. Hotel tersebut menyajikan es batu yang sangat digemari oleh tamu agar mereka merasa nyaman dan tidak terlalu kepanasan selama tinggal di Jakarta.
“Es menjadi salah satu sajian utama Hotel de Provence setiap malam yang khusus disajikan di Salon des Glace diiringi permainan musik,” tulis Ahmad Sunjayadi dalam artikelnya “Kuliner dalam Pariwisata Kolonial di Hindia Belanda” yang termuat dalam buku Titik Balik Historiografi di Indonesia (2008).
Sejarawan Denys Lombard menjelaskan dalam Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia (2008), impor es batu ke Hindia Belanda berasal dari Boston, Amerika Serikat. Es tersebut dibuat dengan membekukan air menggunakan garam dan amoniak. Setelah beku, es tersebut dipotong dalam bentuk balok.
Sesampainya di Hindia Belanda, es balok tersebut dipecah sesuai kebutuhan. Harian Bataviaasch Handelsblad (25 Agustus 1866) menyebutkan, harga es batu adalah lima sen per 0,5 Kg. Ini adalah harga yang cukup mahal pada masa itu. Namun, demi menghindari kepanasan, banyak warga asing yang tetap membeli es dari para penjual.
Permintaan es batu di Batavia tercatat mencapai ratusan ton. Pada tahun 1856, Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) alias Perusahaan Dagang Belanda pernah mengirimkan 600 ton es batu dari Amerika Serikat.
Es batu tidak hanya digunakan untuk kenyamanan warga asing. Mereka juga memanfaatkannya untuk mengawetkan makanan dan keperluan kesehatan. Sejak saat itu, impor es batu terus berlanjut meskipun harganya tinggi dan hanya orang kaya yang dapat membelinya.
Namun, segalanya berubah ketika teknologi pembuatan es mulai masuk ke Hindia Belanda. Sejak akhir abad ke-19, pabrik-pabrik es mulai muncul. Pada awalnya dimiliki oleh orang Eropa, tetapi perlahan-lahan juga dibuka oleh pengusaha Tionghoa.
Pada akhirnya, keberadaan pabrik es batu menutup pintu impor dan membuatnya lebih mudah diperoleh. Terlebih lagi setelah teknologi mesin pendingin atau kulkas mulai hadir sejak 1930-an. Sejak saat itu, es batu tidak hanya dinikmati oleh warga asing, tetapi juga oleh masyarakat umum lainnya.