Tragedi Nuklir Chernobyl: 60.000 Jiwa Melayang Akibat Kesalahan Fatal
Jakarta, PANGKEP NEWS — Peristiwa ledakan nuklir yang menggemparkan dunia dan dampaknya yang mematikan diceritakan dalam kisah Chernobyl yang mengguncang dunia.
Insiden ini menggarisbawahi pentingnya keselamatan operasional dan kompetensi teknisi di industri nuklir, terutama setelah kejadian mengerikan yang berlangsung 39 tahun silam.
Ledakan nuklir Chernobyl pada tanggal 26 April 1986, menjadi pengingat akan akibat fatal dari kelalaian, di mana 60.000 jiwa hilang dan ratusan ribu lainnya harus meninggalkan kota asal mereka untuk waktu yang sangat lama, hingga 20.000 tahun lamanya.
Sebagai pengetahuan, situs nuklir Chernobyl adalah ambisi Uni Soviet untuk memiliki nuklir terbesar di dunia. Sejak 1977, pemerintah berhasil membangun reaktor nuklir berkekuatan 1.000 megawatt. Ini cukup untuk menyediakan listrik bagi satu negara selama bertahun-tahun.
Dari situ, Soviet terus mengejar pengembangan nuklir. Hingga 1986, ada 4 reaktor nuklir berukuran besar di Chernobyl dengan kekuatan serupa. Namun, beberapa reaktor masih dalam tahap pengujian.
Pengujian yang dimaksud adalah soal pendinginan tanpa henti. Reaktor harus tetap dingin, sehingga pasokan air harus tersedia 24 jam sehari selama seminggu penuh. Jika tidak, reaktor bisa memanas dan mengakibatkan ledakan.
Dalam kasus Chernobyl, tim nuklir Soviet mencoba melakukan pengujian aktivasi generator agar turbin terus mengalirkan air untuk mendinginkan reaktor. Pengujian dilakukan pada 26 April 1986. Secara teori, air akan dialirkan oleh turbin untuk terus mendinginkan inti reaktor. Dari sini, tim dapat mengetahui berapa lama daya tahan turbin untuk tetap beroperasi.
Sayangnya, saat melakukan tes, orang-orang yang terlibat kurang kompeten. Mereka bahkan bersikap bebas dan tidak terbuka terhadap saran. Hal ini terjadi pada Deputi Kepala Teknisi Anatoly Stepanovich Dyatlov dan Kepala Teknisi Nicholai Fomin.
Menurut Chernobyl: 01:23:40 (2014), Fomin abai dan seolah menutupi bahwa tenaga pendingin sudah cukup. Padahal, jauh dari kenyataan. Fomin tahu tenaga reaktor hanya 200 megawatt, jauh dari angka minimal yang seharusnya 700 megawatt.
Sementara itu, Dyatlov bersikeras tes harus dilakukan hari itu juga. Di sisi lain, pada hari pengujian, teknisi sudah menyerah. Mereka tidak mampu melakukannya. Namun, karena Dyatlov tetap bersikeras dan memberikan ancaman mutasi, para teknisi akhirnya mematuhi.
Di sinilah bencana dimulai. Ketika malam tiba, teknisi menyalakan generator. Turbin air pun mulai beroperasi. Namun, di tengah jalan, tenaga generator menurun drastis. Tidak mampu terus menyala. Akibatnya, suhu inti reaktor nuklir meningkat dengan cepat. Ketika ini terjadi, teknisi bergegas menekan tombol SCRAM di komputer.
Tombol ini adalah perintah komputer ke sistem untuk menghidupkan generator. Sayangnya, tombol tidak berfungsi karena tidak pernah diperiksa. Maka, bencana pun terjadi. Reaktor nuklir langsung memanas hingga mencapai 3.000 derajat Celsius. Tak lama kemudian, nuklir meledak dengan dahsyat.
Saat radiasi nuklir menyebar, banyak penduduk masih tertidur lelap. Akibatnya, mereka tidak dapat melarikan diri dan terpaksa terpapar radiasi yang sangat tinggi. Saat itu, radiasi nuklir akibat ledakan tidak bisa dideteksi alat. Alat tersebut tidak bisa menentukan tingkat radiasi karena sangat tinggi.
Baru ketika matahari terbit, orang-orang terkejut melihat adanya debu bertebaran. Padahal itu bukan debu biasa, melainkan debu-debu nuklir. Maka, tamatlah orang-orang di sana.
BBC mencatat ada 90.000 orang meninggal akibat radiasi nuklir dalam jangka panjang. Selain itu, ada 600.000 orang yang terpapar radiasi, tetapi tidak tewas. WHO mencatat, radiasi nuklir mencapai jarak 200.000 km hingga Eropa. Sementara itu, Chernobyl sendiri tidak bisa dihuni manusia hingga 20.000 tahun lamanya akibat efek radiasi yang dahsyat.