Jakarta –
Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) dan platform media sosial baru seperti TikTok kini menjadi pilihan netizen dalam mencari rekomendasi, panduan, hingga informasi mendalam mengenai topik tertentu. Dominasi Google sebagai penguasa mesin pencari tampaknya mulai goyah.
Di samping itu, tekanan terus-menerus dari Uni Eropa dan Amerika Serikat mengenai dugaan monopoli oleh Google juga menambah beban bagi raksasa dari Mountain View ini.
Baru-baru ini, Apple berencana menyertakan pencarian berbasis AI di browser Safari mulai tahun depan, sebagai alternatif dari penggunaan Google.
Hal tersebut diungkapkan oleh Eddy Cue, wakil presiden senior layanan Apple dalam sidang antimonopoli Google. Cue mengungkapkan pembayaran sebesar US$20 miliar dari Google kepada Apple untuk menjadikan Search sebagai mesin pencari default di Safari.
Menurut laporan yang dikutip dari PANGKEP NEWS, beberapa penyedia layanan pencari berbasis AI telah berdiskusi dengan Apple, yakni Perplexity, OpenAI, dan Anthropic.
“Sejauh ini, fitur tersebut belum cukup memadai,” ujar Cue.
Menurutnya, pengembangan AI generatif masih berada pada tahap awal. Kemitraan dengan berbagai perusahaan dilakukan Apple untuk memastikan adanya pilihan lain dalam penyedia layanan.
Apple diketahui turut terlibat dalam pengembangan teknologi AI, salah satunya adalah mengintegrasikan Siri dengan ChatGPT.
Selain itu, rencananya Gemini milik Google juga akan hadir di iPhone. CEO Sundar Pichai mengonfirmasi bahwa Google semakin dekat dengan kesepakatan tersebut.
Cue menambahkan bahwa pencarian di Safari mengalami penurunan bulan lalu, sebuah kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam 22 tahun terakhir.
Gen Z Tinggalkan Google Menuju Alternatif Lain
Secara terpisah, laporan PANGKEP NEWS bekerja sama dengan tim Research dan Insights dari Vox Media serta Two Cents Insights, menunjukkan adanya perubahan tren dalam cara netizen mencari informasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi, termasuk AI.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa kekuasaan kini mulai beralih kembali ke tangan pengguna. Masyarakat semakin mengutamakan komunitas yang memiliki nilai dan kredibilitas tinggi dalam menyerap informasi yang dapat dipercaya.
“Teknologi lama seperti Google dan platform sosial lainnya mulai kehilangan kepercayaan dari masyarakat. Banyak pengguna yang beralih ke chatbot AI dan komunitas kecil, serta platform seperti TikTok,” kata laporan PANGKEP NEWS.
Kesimpulan dari PANGKEP NEWS dan mitranya didapatkan dari survei terhadap 2.000 pengguna internet di Amerika Serikat. Sebanyak 42% menyatakan bahwa mesin pencari seperti Google semakin tidak berguna.
Sejumlah 66% mengungkapkan bahwa kualitas informasi di internet semakin memburuk dan sulit menemukan sumber informasi yang dapat diandalkan. Sebanyak 55% lebih memilih bergantung pada komunitas mereka untuk mencari informasi terbaru ketimbang platform pencarian seperti Google.
Lebih jauh, 52% telah beralih ke chatbot AI dan platform alternatif seperti TikTok untuk mencari informasi, alih-alih mengandalkan Google.
Menurunnya kepercayaan pengguna internet terhadap Google tidak terjadi begitu saja. Sebanyak 76% responden mengatakan bahwa lebih dari seperempat hasil pencarian mereka di Google saat ingin berbelanja online menunjukkan konten bersponsor atau sengaja dipromosikan secara berbayar.
Hanya 14% dari konten bersponsor tersebut yang dinilai benar-benar membantu pengalaman pencarian pengguna.
Selain itu, 61% Gen Z dan 53% milenial menyatakan bahwa mereka menggunakan alat AI untuk menggantikan Google dalam mencari informasi terkait topik yang spesifik.
Saat ini, banyak alat AI yang tersedia di pasaran dan bisa dijadikan alternatif pengganti mesin pencari Google. Selain Perplexity dan OpenAI yang populer, ada juga mesin pencari AI yang relatif belum banyak dikenal seperti iAsk.Ai, Komo AI, Brave Search, Andi Search, hingga You.com.