Apakah RI Akan Menghentikan Impor BBM dari Singapura? Ini Penjelasan dari ESDM
Tangerang Selatan, PANGKEP NEWS – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan klarifikasi tentang wacana pengalihan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia dari Singapura ke beberapa negara di Timur Tengah dan Amerika Serikat.
Plt. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Tri Winarno, menjelaskan bahwa rencana tersebut masih dalam tahap evaluasi.
“Belum. Ya, diskusinya belum selesai. Masih dalam evaluasi,” katanya saat diwawancarai di sela-sela acara The 49th IPA Convex di ICE BSD, Tangerang Selatan, yang dikutip pada Kamis (22/5/2025).
Tri menambahkan bahwa pihaknya hanya menunggu arahan dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk melaksanakan rencana pengalihan impor BBM dari Singapura.
Sebelumnya, Bahlil mengungkapkan bahwa sejak menjabat sebagai Menteri ESDM, ia telah melakukan evaluasi terhadap berbagai produk impor, termasuk BBM. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa harga beli minyak dari Singapura ternyata serupa dengan harga beli BBM dari negara-negara di Timur Tengah.
“Setelah saya cek, ternyata harganya sama dengan dari negara Timur Tengah. Jadi kita mulai berpikir, mungkin bukan mungkin lagi, hampir pasti kita akan membeli minyak dari negara lain selain Singapura,” ujar Bahlil di Gedung Kementerian ESDM, yang dikutip pada Kamis (14/5/2025).
Ia menargetkan dalam enam bulan ke depan, rencana pengalihan impor BBM dari Singapura ke negara lain bisa segera direalisasikan. Untuk mendukung rencana ini, Pertamina tengah membangun dermaga yang lebih besar untuk memfasilitasi kapal-kapal besar.
“Karena kalau dari Singapura kapalnya kecil-kecil, itu juga salah satu alasan. Jadi kita membangun fasilitas yang lebih besar, agar dalam satu kali angkut tidak ada masalah. Oleh karena itu, pelabuhannya diperbesar dan kedalamannya dijaga,” tambahnya.
Lebih lanjut, Bahlil menyatakan bahwa pemerintah berencana mengalihkan sebagian impor BBM dari Singapura ke Amerika Serikat. Langkah ini merupakan bagian dari strategi negosiasi Indonesia dalam merespons kebijakan tarif tinggi yang diterapkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
“Ya, sebagian. Kita sudah memiliki perjanjian dengan Amerika. Salah satu yang kita tawarkan adalah membeli beberapa produk dari mereka, termasuk BBM, crude, dan LPG,” ungkapnya.
(wia)